Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

My First Nightmare

Sudah beberapa hari ini aku rasakan perih, sengatan, layaknya jilatan api menyentuh disana.

Dua ratus dua puluh satu bulan yang lalu, kau tinggalkan dunia fana ini. Setelah berjuang dalam hidupmu selama tiga tahun yang penuh dengan derita, rasa sakit, dan kepiluan; hidup bersama sel-sel abnormal yang secara perlahan memakan dagingmu, menggergoti sehatmu. Disela perih itu kau terus saja tersenyum, mengatakan padaku bahwa kau akan baik-baik saja, bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Tiga tahun itu membawaku juga pada keputusasaan. Kenapa tidak kau akui sedari awal? Mengapa setelah semuanya terlalu jauh baru kau akui ketakutanmu, kekhawatiranmu yang selama ini coba kau pungkiri. Saat para dokter memberikan vonis layaknya sang Tuhan. Tiga bulan lagi masamu di dunia fana ini. Tiga bulan saja aku bisa milikimu.

Aku terjatuh, aku terjerembab, aku rasakan hadirnya hari akhir di alam fana ini. Aku tersungkur.

Yang sesungguhnya, aku hanyalah pecundang. Kalah sebelum berperang.

Dirimu sebagai sang korban makhluk buas malahan menegakkan kepala dan menabuh genderang perang. Tiga bulan, itulah yang diramalkan oleh sang pengaku dewa kesehatan; tiga tahun lamanya kau berperang hingga di penghujung aku bisikan, “tak mengapa jika kau telah lelah, tak mengapa jika kau merasa inilah akhirnya, aku akan baik-baik saja seandainya kini kau ingin beristirahat”. Karena sesungguhnya kau telah menang, menang melawan semua ancaman, kau telah membuktikan pada dunia ini, kaulah yang terhebat. Dan akhirnya kau hembuskan nafas terakhirmu. Nafas yang merejan nyawamu, membawanya ke tempat yang lebih indah di keabadian.

Pagi itu, aku masih merasakan kejengkelan di dadaku, yang kini aku sudah tak ingat perihalnya. Kita bertengkar di malam sebelumnya. Bertengkar di sela dirimu yang masih terus berperang. Begitu kejamnya diriku. Betapa durhakanya aku.

Pagi itu, saat aku merias diri bersiap untuk beraktivitas keseharian. Saat aku melirik disudut cermin pesolek, aku melihatmu terjaga dan tersenyum. Kau tersenyum begitu cantik, begitu rupawan, senyummu seolah mengatakan padaku bahwa aku akan baik-baik saja. Bahwa kau bahagia. Bahwa kau telah melupakan segala pertengkaran kita, bahwa kau telah memaafkan seluruh kenakalanku. Senyummu memperlihatkan padaku bahwa disanalah surga berada, begitu menentramkan, begitu menyejukkan. Tapi tetap saja aku, berlalu seolah tak hiraukan, tak jua kucium pipimu seperti yang selalu kulakukan saat aku pamit untuk beraktivitas keseharian, meminta keberkahan sepanjang hari. Kusia-siakan pagi terakhirmu didunia dengan amarah kekanakanku. Tiada aku disisimu saat akhir tarikan nyawamu. Tiada aku disisimu saat kau hadapi akhir detik nyawamu. Tiada aku disisimu hanyalah karena ke-egoisanku.

Kali ini aku benar-benar tersungkur, senyum sejuk terakhirmu itu. Itukah caramu mengatakan selamat tinggal? Bahwa kau yakin, aku akan baik-baik saja menghadapi kefanaan dunia ini seorang diri.

Tak kusaksikan matamu yang tertutup untuk terakhir kalinya. Hanyalah pusaramu yang kusentuh tempat pembaringan abadimu. Disanalah kutinggalkan salam perpisahanku. Tiada tangisan, tiada isakan. Aku tinggalkan senyumanku dan mengatakan bahwa kau telah baik-baik saja.

Aku sayang padamu, Bunda. Tanpa batas seluas cakrawala dan jagat raya.

Elegi hidup ini. Terlahir dengan garisan takdir. Sejarah silsilah keturunan yang akan terus menghantuiku. Walaupun sejarah menorehkan, keganasan abnormalitas sel buas itu melompati satu generasi pada setiap kemunculnnya. Itulah yang harus aku hadapi. Itulah yang harus dipahami.

“Release the past, release the Future”
-Siddarta-

17012016

(Dikutip dari: http://donnasemplicelotus.tumblr.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published.