Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

The Architecture of Love – Sebuah Catatan

IMG_6177
Rianti 2016

Sejujurnya, saya bukanlah pembaca setia Ika Natassa. Saya membaca novel Ika pertama kali yang berjudul “Critical Eleven”, selanjutnya ya saya jatuh cinta ;)..Tapi untuk membaca mundur kisah-kisah Ika sebelumnya? Hm….I don’t really like reading something that already spoil in the end (you will know what I mean if you are following her books, at least from “antalogi rasa”).

Anyway, “The Architecture of Love” memberi kesan tersendiri bagi para pembacanya, termasuk saya. Ika selalu mahir untuk menjaga keterikatan batin antara pembaca dan tokoh-tokoh utama yang diciptakannya lewat  tulisan. Ika juga lihai menjaga ikatan emosional antar tokoh di dalam buku-bukunya. Semua terkesan normal, rutinitas dan kisah yang dapat terjadi pada siapapun dan dirasakan oleh siapapun. Itulah mungkin yang membuat kita tidak akan meletakkan karya-karya Ika begitu kita mulai membaca dari halaman pertama. Semuanya terasa mengalir begitu saja. Memberikan rasa penasaran di setiap lembar berikutnya yang belum terbaca, akibatnya, kita akan terus menerus membacanya dalam beberapa jam kedepan, mengesampingkan semua kegiatan yang mungkin harus dilakukan. Hehehe, setidaknya itulah kesan saya saat membaca buku ini 🙂

Kesan lainnya? Hm, ini semakin menjadi subjektif & a bit spoiler i guess, but okay :D. Saya suka cara Ika menceritakan detail setiap sudut kota New York dengan begitu sederhana dan cerdas. Yap, semua orang tahu New York adalah salah satu kota metropolitan di dunia yang selalu sibuk, ramai, matrelialis, hedonis, dan tidak pernah tidur. Namun, Ika berhasil mengeluarkan New York dari kesan-kesan tersebut dan membawanya ke suatu tempat historis bersejarah, penuh mimpi dan harapan, serta wajib dikunjungi, terutama bagi para traveller & backpacker (note: I am definitely not talking about tourist!). Setiap bangunan punya cerita. Setiap benda yang kita anggap mati-pun mampu berkisah :). The other thing from Ika’s novel is  she could show us things that we would ever thing before. Make us “rich” in knowledge and mind :). Saya suka sekali untuk dapat selalu belajar dari apapun yang saya baca. Dan Ika memberikan saya pengetahuan itu dari perspektif yang berbeda. Unik dan menarik.

“The architecture of love” adalah bacaan yang tepat untuk mengisi libur panjang atau sekedar menghabiskan weekend santai. Kita akan terbawa pada kisah manis menyusuri kota New York (yipie…tidak perlu tiket mahal dan visa perjalanan untuk ikut petualangan ini :D) yang penuh harapan dan mimpi. It’s worth to read 🙂

Apabila ada satu hal yang bisa saya tanyakan pada mbak Ika Natassa, adalah: “Ada apa dan siapakah keluarga Risjad ini? ” 😉

“The funny thing is, nobody ever really knows how much anybody else is hurting. We could be standing next to somebody who is completely broken and we wouldn’t ever know it.”

-Ika Natassa, The architecture of love-

(Rianti, July 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published.