Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

Kupu-Kupu Bersayap Gelap-Sebuah Catatan

IMG_6166
Rianti 2016

 

“Kumpulan cerpen ini begitu kelam, menghanyutkanmu tidak saja di alam pikiran namun juga menyesatkanmu di sanubari terdalam. Kamu bisa tersenyum, merasa bahagia, begitu sedih, hingga ketakutan yang teramat sangat. Begitulah Puthut EA dengan semua buah karyanya. Tidak ada tameng menutupi diri, berbicara lugas dan apa adanya. Sarat akan pemaknaan dalam keseharian yang terasa begitu akrab dengan kita. Keseharian yang terkadang tak ingin kita kenali namun dia ada memperkaya kehidupan manusia di bumi, di Indonesia, di manapun ia berada. “

Membaca kumpulan cerpen “Kupu-kupu Bersayap Gelap” bukanlah perkara mudah. Kumpulan cerpen ini bukan semata tipikal cerita yang dapat dinikmati dalam sekali duduk. Saya saja harus menyelesaikannya dalam berkali-kali duduk,  termenung, meresapi artinya, beranjak bangkit, melupakan sejenak kisah-kisah itu, terlibat dalam rutinitas keseharian, tertidur, bangun, teringat akan kumpulan cerpen yang belum rampung untuk dibaca, mencoba untuk menikmati lagi kisah-kisah di dalamnya, merenung, meresapi makna dibalik setiap cerita, beranjak dari duduk, tenggelam dalam rutinitas, membaca sebuah novel, menulis catatannya, merasa bersalah, rasanya seperti menghianati sesuatu,  seolah saya cheating, dan kembali pada kumpulan cerpen ini, berniat untuk harus menyelesaikannya. TUNTAS. Ini semua karena saya menjadi sangat awam apabila dihadapkan dengan karya sastra milik Puthut EA.

Buat saya, karya-karya Puthut EA yang terangkum dalam kumpulan cerpen ini tidak bisa dianggap remeh. Puthut mampu bercerita hal-hal umum menjadi sesuatu yang perlu direnungkan secara mendalam. Membawa kita turut serta dalam alam imajinasinya yang sarat makna. Dan oiya, memutar imaji pribadi untuk terkadang menginterpretasi akhir kisahnya ;). Karya-karyanya sangat mewarnai khasanah sastra Indonesia. Beberapa kisah dalam cerpem ini, seperti: Laki-laki yang tersedu, Bunga  dari Ibu, Sesuatu telah pecah di senja itu, Dalam pusaran kampung kenangan, Ibu pergi ke laut, Kupu-kupu bersayap gelap, bocah-bocah berseragam biru laut; telah diterbitkan di Kompas dan Horison dalam kurun waktu 2004-2005.

Kumpulan cerpen Pututh EA, “Kupu-Kupu Bersayap Gelap” sangat tepat untuk menemani weekend Anda, terutama bagi Anda pecinta karya sastra sederhana namun dalam-bermakna dan menghanyutkan emosi lewat jalinan ratusan kata, khas Puthut EA.

(Rianti, Juli 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published.