Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

Bait Kekeliruan

“Desember datang, lajuku harus menandingi kenangan itu, sebelum tak terselamatkan lagi sayap lemah ini..” sekilas gumamku. Puing-puing bayangan mulai bermunculan, memutar kembali roll film yg mengejutkan setiap kepakan lajuku. Menorehkan cerita lalu yang penuh peringatan.
Sayap lemahku tak lagi sinkron dengan otakku saat itu. Bodohnya, tak bisa aku menyuarakan dengan tersirat sederet tanya di kepalaku. Ritme jantungku tak terkendali, membuat distribusi darah ke otak menjadi tak tentu, otakku seperti membeku. Suaraku tertahan, kata-kata pun buyar. Kepadatan hari itu membuat jam makan malam pun lewat. Sialnya, perutku berteriak seraya memompa bibit emosi. Apa boleh buat, terlanjur buat janji adalah komitmen. Mungkin suasana tempat itu membuatku tak tenang, dan keterbatasan waktu membuatku terburu-buru, hingga cerobohku mampu layangkan kumpulan kerikil beberapa bulan lalu. Ya, kerikil-kerikil tuduhan yang sempat aku pungut di perkumpulan konyol sebelumnya.

Oh..kalau tidak salah, bukan aku yang memungutnya. Namun kerikil-kerikil itu dengan sendirinya bertamu tanpa permisi dan menggegerkan isi hati.
Sebenarnya aku hanya ingin membersihkan nama baikku dengan berontak pada semua tuduhan konyol itu. Tapi laparku saat itu tak berkompromi. Akhirnya lisan ngawur menguasai pembicaraan malam itu. Seandainya kau mau percaya, tentu kucuran kerikil tajam tak lagi bermakna bagi pendengaranmu, dan emosi saat itu tak perlu pecah dari cangkangnya..
Ah sudahlah, mungkin perlu aku merebahkan tubuh sejenak..memejamkan mataku, dan menuliskan ini ketika terbangun.

.

.

.

#titiksenyap-Bait Kekeliruan

Oleh: Kandhika Puspita

Ig: @kandhika

Leave a Reply

Your email address will not be published.