Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

Cinta – Philia

angel 1 filter b&W
(Rianti ©2016)

(Rianti, 2016)

Memori itu masih sering berkilatan di benakku. Bagaimana angin malam membekukan aku, mencacah selapis demi selapis tubuhku. Aku ketakutan dan menangis tanpa henti.

Lalu keesokkan paginya seorang pria membuka pintu, menemukan aku masih menangis sisa semalam, di atas keranjang yang ditinggalkan oleh siapa aku tak pernah tau. Aku yakin saat itu dia tersenyum, membawaku kedalam dekapan hangatnya. Memandikanku dengan segera dengan berbagai wewangian aroma bunga dan buah. Aku rasakan kenyamanan dalam buaian belai lembutnya, akupun tertidur lelap. Teramat lelap hingga rasanya aku kembali kedalam rahim ibuku.

Pria itu tidak hidup sendiri. Ada seorang wanita yang tinggal bersamanya. Aku terbangun sore itu saat lambungku berteriak keras untuk diisi. Aku lapar. Akupun menangis. Karena memang hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Menangis. Meronta. Menangis.

Pria itu kembali mendekapku dalam hangat. Dia juga berusaha memasukkan cairan melalui mulutku. Cairan putih suam-suam kuku yang manis. Aku suka. Pria itu masih saja berusaha mengenyangkanku. Tangan lembut lainnya membelai puncak kepalaku. Tidak hanya ada kami berdua diruangan itu. Ada sesosok wanita disampingnya. Ku tatap wanita cantik dihadapanku. Dia tersenyum sambil terus membelaiku. Rasa hangat kembali menjalar kesekujur tubuhku. Aku rasakan bahagia.

Menit demi menit berlalu. Jam demi jam berlalu. Hari demi hari berlalu. Minggu demi minggu berlalu. Pria dan wanita itu masih menjagaku. Mencintaiku tanpa syarat.  Ah ya, aku teringat suatu saat mereka berbincang. Saat itu sang wanita sedang mendekapku erat dan membelai lembut wajahku. “Sayang, she will always going to be our baby, right? I love her so much”. “Aku juga sayang. Ya, dia akan selalu bersama kita”. Lalu pria dan wanita itu tersenyum sambil saling berpeluk. Saling berpeluk dengan kedua tangan bebas mereka tak lelahnya membelaiku. Lagi-lagi rasa hangat itu kembali menjalar kesekujur tubuhku.

Aku juga teringat suatu masa di pertengahan bulan April. Aku kembali rasakan dingin ditubuhku. Aku yang mereka bilang meriang, dan wanita yang dengan cemas memeriksa angka pada thermometer digital yang baru digunakannya padaku. 39 derajat celcius panas tubuhku. Aku lihat sang pria panik begitu juga wanitanya. Tak lama kemudian aku dengar mereka sibuk berbicara dengan mesin yang diletakkan ke kuping mereka masing-masing. “Dok, apakah dokter buka hari ini?”…..”Ya dia panas Dok, 39 derajat”……”Ya, kami akan segera kesana”. Kepala ku pening sekali saat itu. Yang aku tahu, mereka akhirnya membawaku ke ruangan yang sangat asing. Udara berbau obat. Berbau aroma pembersih lantai yang sangat menyengat. Aku tidak suka. Aku terus meronta. Aku terus menangis. Meronta. Menangis. Meronta. Aku takut. Memori malam dingin nan gelap kembali menyelimutiku. Aku takut…

Pria itu kembali mendekapku. Seseorang yang mereka panggil dokter menuliskan sesuatu pada selembar kertas putih. Kemudian, kedua pria dan wanita itu kembali mengucapkan terima kasih dan pergi meninggalkan ruangan berbau pembersih lantai. Syukurlah, aku dibawanya serta. Ya aku ingin menjadi posesif, aku ingin bersama sepasang pria dan wanita yang tanpa lelah merawatku dan menjagaku.

Sejak hari itu, aku berangsur pulih. Walau tidak sesempurna sebelumnya. Ternyata panasku membuat sel otot pada pangkal pahaku tidak mampu lagi terinduksi dengan baik. Impuls syaraf tak lagi terkoneksi sempurna. Akibatnya, ada masa dimana aku mengalami kaku otot seketika. Kakiku tak dapat digerakkan dan itu terasa sakit. Sekali lagi, setiap saat itu terjadi, yang bisa ku lakukan hanyalah menangis. Meronta. Menangis. Namun wanita itu selalu dengan sigap mendekap ku, setiap saat serangan itu tiba. Membelai kepalaku dan dengan lembut memijat pangkal paha hingga telapak kaki ku. Aku menatapnya dan dia balas menatapku. Tatapan lembut itu yang menghangatkan sekujur tubuhku.

Aku senang terlelap dalam peluk mereka. Aku suka cara mereka membelaiku. Aku suka cara mereka mencium keningku. Aku suka cara mereka menatap mataku. Semua dengan penuh cinta. Pria dan wanita itu kembali menatapku, tersenyum, dan mengatakan, “kami mencintaimu sayang”.

Akupun untuk yang kesekian kalinya mencoba untuk membalas rasa mereka dengan mengatakan “Aku juga sangat cinta Ayah dan Bunda”

 

…..miaaowwwww, miaaaaoooowww, miaaaaoooooowwww…….

 

(Dedicated to Screamy and Abu, we really love you so much 😍)

0 thoughts on “Cinta – Philia

  1. Udah gue duga, ini buat kucing lu mba.. But it’s amazing story..
    Sudut pandang kucing. Mungkin kalau kucing bisa ngomong dia bakalan bilang kalimat terakhir itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.