Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

Suara Hati Untuk Bapak

“Anak itu seperti layang-layang, biarkan ia terbang bebas, tapi jangan pernah lepaskan talinya. Karena suatu saat pasti butuh ditarik dan diulur kembali.” filosofi dari seorang pria yang ku panggil Bapak, yang membawa hidupku sampai dititik saat ini.

Aku sering bercerita pada Bapak, jika banyak dari kawan-kawanku menganggap hidupku enak. Aku bebas kemanapun pergi, aku tak pernah dicari, tak pernah ditelepon setiap hari, dan apapun yang ingin aku raih tak pernah terganjal restu bahkan didukung sepenuh hati.

Aku bingung Pak, enaknya di mana? Bukannya tanggung jawabnya lebih besar ya?

Lalu Bapak menjawab bahwa kami anaknya adalah layang-layang. Ia berikan kami kebebasan, tanpa pernah melepaskan. Ia beri kami kelonggaran untuk belajar dari kenyatan, bereksperimen dengan semua hal di lapangan, agar kami bisa mengambil keputusan. Belajar dari contoh dan dari kehidupan lebih mengena dibanding harus dihujani beribu nasehat. Itu kiranya yang bisa aku tangkap dari obrolan-obrolan kami kerap kali aku dan Bapak sedang sama-sama ada di rumah.

Flashback dulu kebelakang ya Pak bagaimana kita bisa sedekat ini padahal dulu kita teramat jauh. Bapak masih ingat masa-masa kecilku dulu? Masa-masa aku sering merengek meminta mainan!

Saat aku masih berwujud seorang gadis kecil berseragam Sekolah Taman Kanak-kanak, Bapak bukan sosok istimewa dimataku. Sungguh ia bukan seseorang yang aku puja. Bapak jarang ada didekat ku tak kala kecil dulu. Pekerjaannya mengharuskan ia jarang ada dirumah. Dalam seminggu, mungkin Bapak hanya hadir satu atau dua hari di rumah. Hingga momen hari raya adalah hari bahagia di mana kami bisa kumpul bersama.

Begitupun saat aku beranjak Sekolah Dasar, kehadiran Bapak adalah salah satu yang selalu aku tunggu. Aku ingat tatkala Bapak pulang dengan berpakaian seragam biru tua bebahan jeans, menenteng tas hitam, dan terkadang terselip helm pelindung untuk keselamatan kerja ditangannya. Dari jauh, aku sudah berlari menyambut kedatangan Bapak dan itu hampir selalu terjadi saat Bapak pulang. Ada rasa bahagia dengan kedatangannya, ditambah oleh-oleh yang ia bawa.

Bapak ingat aku pernah minta apa saja waktu kecil?

Aku pernah minta sepatu, minta beliin lego atau bongkar pasang aku menyebutnya, minta beli tamagotchi, minta dibawain kue kaleng wafer, minta buah anggur hijau, dan masih banyak lagi. Maklum saja, barang-barang yang aku mau seringnya tak dijual ditempat kami tinggal. Sedangkan di kota tempat Bapak bekerja, semua barang-barang tersebut ada.

Dari kecil aku banyak mau ya Pak, sama seperti saat ini. Mauku banyak, impianku tak hanya satu, tapi tenang saja aku akan berusaha mewujudkannya satu persatu. Semoga Bapak percaya aku bisa, doakan aku dengan seksama. Seperti waktu dulu saat meyakinkanku bahwa aku bisa dapat prestasi dan nilai bagus asal belajar dan tidak grogi saat mengerjakan soal ujian.

Waktu terus bergulir, kedekatanku dengan Bapak tak lebih dari membicarakan sekolah. Selebihnya, sosok Bapak menghilang lagi ditelan tempat kerja, datang lagi, dan pergi lagi, begitu seterusnya. Bapak seolah tak pernah punya waktu untuk bersantai dengan keluarga. Bahkan, perkerjaannya mengharuskan ia menjadi anak kosan hingga ia pensiun. Pengorbanan besar Bapak bagi kami sekeluarga.

Hingga tepat pertengahan tahun 2000, saat umurku duabelas tahun, aku meninggalkan rumah untuk belajar dan bersekolah, yang pada akhirnya membentangkan jarak tak hanya pada Bapak, tapi juga Mamah. Menjadi tidak dekat dengan keluarga adalah konsekuensi yang harus aku ambil tatkala memutuskan sekolah jauh dari rumah. Karena komunikasi saat itu tak semudah sekarang, saling berkabar setiap saat adalah hal yang mahal. Dengan dalih mendapat pendidikan yang baik dan belajar mandiri, Bapak dan Mamah merelakan anak pertamanya pergi meninggalkan rumah.

Kehadiran Bapak adalah hal yang amat sangat langka dihidupku. Jika aku pulang, Bapak belum tentu ada di rumah. Bapak hadir di sekolah saat aku lulus Sekolah Menengah Pertama, mengambil rapot saat aku kelas dua Sekolah Menengah Atas, dan perpisahan Sekolah Menengah Atas, mengantarkanku tes dan masuk bangku kuliah, serta hadir ditiga kali wisuda.

Bapak ingat semua momen-momen yang terjadi saat itu. Waktu bergulir sangat cepat Pak. Anak mu yang kau antar untuk menggapai cita-citanya telah beranjak dewasa dengan segala pola pikir yang ia pungut di jalanan. Kembali ke rumah dengan impian yang tak rela ia kubur. Bapak menyadari, jika aku menjadi orang yang berbeda bukan?

Aku dekat dengan Bapak tatkala ia memberiku jaminan kebebasan saat aku kuliah.  Bapak memberiku ruang berekspresi di bidang apapun, memberiku ruang untuk menjelajah sejauh aku sanggup dan mau. Sayaratnya hanya satu, “bilang”.

“Kamu boleh pergi kemana saja, asalkan bilang!” kalimat itu seperti kesepakatan antar aku dan Bapak.

Awalnya aku hanya bilang, dalam artian pemberitahuan bukan izin. Namun lambat laun Bapak menjadi kawan diskusi untuk semua keputusan yang akan aku ambil. Sepertinya aku harus berterima kasih untuk teknologi yang telah mempermudah hubungan Bapak dan anak ini. Hingga aku perlahan menjadi sosok yang terbuka dengan Bapak. Aku menjadi jujur untuk semua yang aku rasakan, inginkan, dan impikan. Komunikasi kami menjadi lebih baik, terlebih saat Bapak pensiun di tahun 2013.  Setiap aku pulang, kami selalu melewatkan waktu untuk berdiskusi banyak hal di meja makan.

Bapak menjadi bagian dari proses pencapaian dihidupku. Menjadikannya bagian dari impianku lewat semua cerita-ceritaku yang tak pernah bosan ia dengarkan. Perjalanan keluar rumah delapan belas tahun silam atas doronganmu dan Mamah mengantarkan aku diposisi saat ini.

Aku sadar ada resah didadamu, gelisah dijiwamu, akan semua keputusan yang ku ambil di setiap tahapan dihidupku. Ada pilu dimatamu saat orang-orang menyepelekanku dan meragukan masa depanku. Aku tahu mungkin kau tak bisa tidur tatkala aku bepergian jauh dan naik gunung. Namun, sepertinya tak pernah ada kata tidak darimu untukku Pak.

Bapak pernah bilang kan “Hidup dan mati seseorang tak pernah ada yang tahu kapan. Namun, berusahalan untuk tidak meninggal di tempat yang buruk. ”

Tahukah Bapak bahwa kalimat itu menjadi peganganku kemana sebaiknya aku berkelana. Di mana sekiranya aku seharusnya berkumpul dan bercengkrama. Siapa sebenarnya sahabat yang akan membawaku ke jalan surga-Nya. Jadi kemanapun aku pergi, ku pastikan ke tempat terbaik yang memberiku arti hidup Pak. Apapun yang aku tekuni adalah langkah untuk bisa dikenang dengan indah saat tiada nanti.

Aku, Bapak, kita sekeluarga bukanlah orang yang mudah untuk mengucapkan kalimat-kalimat indah untuk memuja satu sama lain dan untuk mengekpresikan perasaan kita satu sama lain. Bahkan, sekedar mengucapkan selamat ulang tahun pun menjadi hal yang canggung. Beruntungnya aku tak pernah canggung mengucap kata terima kasih. Karena dididik untuk terbisa mengucapka terima kasih, maaf, dan tolong.

Jika ada kata yang sulit terucap dariku untuk Bapak yang melengkapi kalimat terima kasih adalah aku terima kasih karena Allah SWT menakdirkanku hadir dikehidupan Bapak dan Mamah. Terima kasih untuk semua pengorbanan dan kasih sayang Bapak yang tak pernah berbatas. Terima kasih telah mengantarkanku menyelesaikan jenjang pendidikan tertinggi diusia mudaku. Terima kasih untuk kepercayaan yang tak pernah ingin ku coba khianati.

Terima kasih telah membebaskanku pergi dan bertanggung jawab atas diri sendiri sejak dini. Bapak tak pernah mengajarkan aku untuk jadi manusia seperti apa, tapi Bapak menciptakan ruang untukku belajar dan memilih untuk menjadi manusia dewasa yang mengerti arah hidupnya akan ke mana. Menjadi wanita mandiri dengan keberanian untuk mengambil keputusan dan memilih.

Bapak tahu apa yang menjadi kekhawtiranku saat ini? Kali ini aku ingin berterus terang.

Bapak, tahu kah betapa aku sangat merasa bersalah jika tak pernah bisa membahagiakanmu. Bahkan sampai detik ini aku tak tahu apakah yang membuatmu bahagia? Bapak tak pernah meminta apapun dariku selain terus mendukungku. Apakah setiap pencapaian dihidupku adalah hal yang membuatmu bahagia Pak? Ku harap demikinan.

Bapak, terima kasih telah menjadi orang tua yang mau belajar. Orang tua yang sadar jika setiap anak punya kemapuan dan keahlian berbeda, memiliki mimpi berbeda. Terima kasih telah mengerti dan menjadi teman diskusi. Terima kasih untuk tidak menghakimi mimpiku yang kadang terlalu tinggi.

Ada pepatah yang mengatakan jika anak perempuan cenderung akan lebih dekat dengan Sang Ayah. Bagi anak perempuan, ayah adalah Superhero yang akan selalu melindunginya. Bagiku ini benar adanya. Setidaknya, apa yang telah Bapak beri menjadi alasan untukku punya kehidupan dan masa depan yang lebih berarti. Tak hanya untukku, tapi untuk mereka yang mau membuka hati.

 

Menes, 17 September 2018

Catatan: suara hati yang tak sanggup terlisankan seorang anak terhadap Bapak tercinta 🙂

Oh ya, sebelum aku pindah ke Kota Kembang Bapak bilang, “Orang tua akan bahagia jika melihat anaknya bahagia.”

Aku Bahagia Pak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *