Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

Skenario Pertama

Bukit Berahu-BIW

Aku bisa kok hidup tanpa keluarga. Apalagi tanpa Ayah yang suka marah-marah seenaknya. Dikira uang cuma mengalir dari dia aja apa? Aku bisa kok cari uang sendiri. Aku menuding wajah ayahku yang mulai merah padam. “Mulai hari ini aku pergi dan nggak akan kembali ke rumah lagi. Jangan pernah cari aku dimana!” Langkahku mantap ke luar rumah dengan satu tas ransel berisi baju secukupnya. Aku banting pintu rumah dengan segala energi yang meluap-luap didadaku. Suaranya menggelegar, tepat pukul 12 malam. Belum waktunya sahur, pasti membangunkan beberapa tetangga yang sedang tertidur lelap. Sayup-sayup terdengar isak tangisan Mamah. Kasihan Mamah, bisa hidup dengan monster seperti Ayah. Monster yang selalu marah dan main tangan. Sudah cukup badanku biru lebam selama 22 tahun. Aku ingin memulai sesuatu yang baru. Hidup yang baru.

Kehidupan baru pun dimulai tanpa sang monster. Tanpa ada yang mengatur, melarang, memarahi, dan yang paling penting, memukul! Aku manusia bebas! Walaupun malam ini dingin, keringat membanjiri tubuhku. Aku mengecek gawai, tidak ada pesan dari siapa pun. Pojok kiri atas layar menunjukkan pukul 01.03. Tanpa sadar aku sudah berjalan selama satu jam! Aku berhenti sejenak di depan minimarket 24 jam sambil menentukan akan menginap dimana malam ini. Sebatang rokok akan membuat pikiranku sedikit jernih. Ah, aku hanya membawa beberapa lembar lima puluh ribu yang sempat aku ambil dari simpanan. Bahkan dompetku tertinggal di atas meja makan! Tengah malam begini, disaat orang-orang tertidur, aku harus menerpa dinginnya angin dan tenggelam dalam gelapnya langit tanpa tujuan. Kemana saja lah dulu yang penting jauh dari rumah.

Hanya berbekal ijazah SMA, nasibku pasti bagai pasang surut ombak di lautan. Ah, aku rindu sekali melihat laut. Rindu bermain air, berjemur sampai gosong, dan rindu sekali menuliskan inisial “M & E” di atas pasir. Tahun lalu, aku dan Mera pergi ke Belitung selama seminggu. Kami sama-sama menyukai pantai. Setiap hari kami pergi dari satu pantai ke pantai lain, mengelilingi Pulau Belitung. Dia tidak keberatan mengendarai motor karena keuangan kami terbatas. Keuanganku terbatas. Aku ingat betul, mulai dari perjalanan ini sampai detik ini, Mera lah yang memenuhi semua kebutuhanku. Kekuranganku. Dia tidak pernah menagihnya atau bahkan mencatatnya. “Gantinya nanti aja, biayain semua biaya nikah kita nanti ya.” Aku tertawa dan membayangkan hidup bersama Mera dalam satu atap, setiap hari, sebagai suaminya. Sepertinya Mera benar-benar sudah berlabuh dan tidak ingin mencari laki-laki lain. Hanya dengan modal cicin perak dan kata-kata romantis bisa membuat wanita seperti itu ya?

Biar bagaimana pun, aku tetaplah seorang laki-laki. Mana mungkin sepenuhnya bergantung pada Mera. Apalagi aku mengaku masih melanjutkan kuliah yang sebenarnya sudah kutinggalkan lama. Aku tidak cerita kepada Mera tentang hal ini. Dia sedang melanjutkan sekolah pasca sarjana, mana mungkin dia mau bersamaku yang tidak kuliah? Aku takut dia pergi. Aku tidak ingin Mera pergi. Aku harus bisa menutupi ini dengan baik. Sengaja aku juga tidak cerita masalah ini kepada teman-temanku. Tidak ada orang yang bisa pegang rahasia bukan? Ah, aku harus membuat skenario. Sepertinya, kisah mahasiswa tingkat akhir yang pergi dari rumah sehingga terpaksa harus bekerja cukup menyedihkan bukan? Pagi sampai sore harus ke kampus dan mengerjakan tugas akhir, malam harus bekerja. Ah, kondisinya kurang tidur sehingga imunitas menurun. Fisik kelelahan dan jadi gampang sakit. Pasti Mera nggak tega. Oh, tambah dengan maag yang suka kambuh, agar Mera selalu belikan makanan sehingga aku tidak telat makan. Baiklah, urusan makan pasti akan beres. Tetapi, kerja dimana yang bisa shift malam terus?

Warung internet.

Malam itu aku berjalan 10 kilometer dan langsung bertemu dengan general manager. Mulailah aku bekerja di tempat aku pernah menjadi pelanggan setia.

***

Tiga tahun sudah aku menjadi kasir sekaligus office boy di warnet. Gajinya kecil sekali untuk memenuhi kebutuhanku. Namun, aku cukup nyaman bekerja di warnet. Aku bisa menumpang tidur di sini, jadi bisa menghemat biaya kos. Terlebih lagi, aku bisa main sepuasnya di luar jam kerja, sesuatu yang tidak bisa aku dapatkan selama di rumah. Aku hanya perlu memikirkan uang makan, laundry, dan rokok. Untunglah Mera masih memberikan suntikan dana setiap kali aku kehabisan uang di tengah bulan. Apalagi dengan alasan perlu ongkos ke kampus, perbanyakan kuisoner, membeli souvenir responden, peminjaman kemeja untuk sidang, perbanyakan skripsi, dan segala tetek bengek lain yang membuat Mera memberikan uangnya tanpa pikir panjang. Bahkan dia tidak menanyakan seperti apa bentuk skripsiku. Semenjak aku pergi dari rumah, Mera memang berjanji akan menjagaku seperti keluarga sendiri. Seperti keluarga pada umumnya, dia juga sudah mulai bawel untuk menyuruhku mengganti pekerjaan. Menurutnya, pekerjaan ini tidak layak. Bagaimana menjelaskan kepadanya kalau aku nyaman bekerja di sini? Ya, aku membuat skenario kalau aku baru lulus dan sengaja tidak mengikuti wisuda karena tidak ada biaya. Ijazahku belum bisa keluar jika belum wisuda. Sengaja hal ini aku dramatisir karena teman-teman Mera sudah mencium keanehan dalam ceritaku. Mereka mulai mempertanyakan kelulusanku dengan keingintahuan mereka tentang foto wisudaku. Peduli apa mereka? Skenarioku harus lebih bagus lagi.

***

Jari-jariku berhenti di atas keyboard. Seperti penari ronggeng yang lupa dengan gerakan selanjutnya. Aku mencoba mengingat-ngingat apa yang salah selama 7 tahun hubungan kami. Aku pejamkan mata, memutar jarum jam, mengulang setiap detik kejadian-kejadian yang masih terekam jelas di bilik ingatanku. Ini bukan tentang egosentris, tetapi aku merasa bahwa bukan aku yang salah. Bukan salahku jika dia menjadi psikopat yang jago berbohong. Bukan salahku jika dia termakan oleh pikirannya sendiri. Degup jantungku terasa cepat. Sekarang suara tangisannya menggema di otakku. Tangisan yang meledak ketika aku membongkar semua skenario bangsatnya. “Kreeeek.” Suara pintu kamar yang terbuka menyadarkanku. Aku berada di depan layar laptop yang dipenuhi skenario, di sebuah ruangan yang didominasi jendela kaca. Matahari terbenam membuat ruangan ini berwarna jingga keemasan. Kain tenun flores berwarna marun menggantung pada salah satu sisi dinding, membuat ruangan ini terkesan lebih hangat. “Mera, sayang, ayo makan. Lanjutin nulisnya nanti abis makan malem, oke?” Aryo memelukku dari belakang dan mencium rambutku. Aku bangkit dan menggandengnya ke ruang makan. Kursor pada layar laptop masih berkedip-kedip, menunggu kejujuran seperti aku yang dulu.

7 Mei 2020
Insomnia ditengah pandemi
(Karya: Ayuwinati)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *