Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

Sephia

20130826_172930
Dilematika ombak dan mentari – WN
Matahari senja adalah benda favoritku. Warna oranye-nya selalu membuatku jatuh cinta. Aku tak perlu repot-repot memilikinya. Aku tak perlu takut kehilangannya. Aku tidak perlu menjaganya. Cukup melihat dari jauh, aku sudah bahagia. Menikmati bentuk bulatnya yang seperti koin, merasakan hangatnya menyentuh wajahku, dan membiarkan oranye melarutkan alam dalam nuansa sephia, seperti namaku.
Tali running shoes sudah terikat kencang, sekencang tekadku untuk berlari. Aku mulai berlari sore mengelilingi perumahan Dramaga Cantik. Saat mulai berlari, aku sudah bisa melihat semuanya. Semua rasa kecewa, rindu, benci datang begitu saja. Terkadang aku kecewa, sangat kecewa, ketika apa yang aku inginkan tidak bisa aku capai. Seperti saat aku kecewa ketika ayah memutuskan untuk pergi dari rumah. Aku tidak ingin ayah pergi dari rumah, walaupun aku tidak pernah mengatakannya. Namun ayah meninggalkan aku, ibu, dan Oky demi seonggok tubuh murahan yang bisa dibeli dengan uang receh.
Aku percepat laju lariku pada turunan jalan. Kedua kakiku membelok tajam di pertigaan. Aku tidak ingin ada yang melihatku menangis. Aku merasakan rindu. Rindu dengan sesuatu yang sudah lama aku miliki. Namun, aku sudah tidak memiliki lagi. Aku menatap awan putih yang membentang luas, seperti sedang menaungi diriku berlari. Apakah ibu berada dibalik awan itu? Atau ibu sedang menjadi awan itu? “Beri aku alamat surga, bu. Aku ingin menyusul.” batinku. Terkadang, aku menganggap ibu sebagai matahari senja. Ibu selalu menghangatkan hatiku dan Oky di saat kami merasa dingin. Dingin karena bertubi-tubi makian dilemparkan ke depan rumah kami. Bagai melempar tahi, mereka mengotori tangannya sendiri. Aku tak peduli.
Berlari di komplek tidak lah seperti yang kalian bayangkan. Aku harus tetap berhati-hati karena masih banyak mobil dan motor yang melaju kencang. Aku harus tersenyum dan menyapa para satpam yang kulewati. Aku anggap setiap satpam sebagai check point lari soreku.
Tiba-tiba rasa benci membanjiri seluruh tubuhku. Aku merasa seperti tersengat listrik. Aku membenci yang orang lain candu. Aku benci narkoba. Aku membenci kehidupan dengan segala teka-teki. Mengapa memberikan teka-teki jika tahu kami tidak akan mampu mengisinya, Tuhan? Aku benci Oky. Aku benci Oky yang memilih narkoba bukan aku. Setelah ibu meregang nyawa di rel kereta Citayam, aku merasa Oky mengkhianati aku. Dia memilih teman-temannya yang tidak bisa disebut sebagai teman. Aku berlari lebih cepat meninggalkan semua kebodohan itu.
Aku mulai sesak nafas. Aku rasa paru-paru yang hanya tinggal setengah ini siap meledak kapan saja. Kurang lebih aku sudah berlari selama satu jam tanpa beristirahat. Semakin sakit dadaku, semakin jauh semua perasaan itu. Semakin diriku puas menyakiti diri sendiri. Aku merasa gelap. Kemudian, datanglah rasa cinta.
Aku menyadari bahwa aku mencintai ayah, ibu, dan adik kecilku Oky. Sejahat-jahatnya mereka, aku tetap menjenguk ayah di rumah sakit jiwa setiap hari. Aku masih merawat kebun bunga mawar kesayangan ibu. Aku masih menabur mawar di makam basah Oky. Aku masih berlari setiap hari. Jika aku tidak berlari lagi, mungkin aku sudah memiliki rasa yang paling langka. Rasa yang sudah tidak ada di sebagian orang-orang gila uang. Rasa ikhlas.
(Ditulis oleh: WN; 16 Maret 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *