Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

Sepasang Sepatu

Image-1 (1)
Maroon-Rianti 2016

 

Separuh jiwa ku telah hilang. Dia hilang bersama angin malam. Terbang ke negeri antah berantah dan tak pernah tahu akankah dia pulang. Mungkinkah dia pulang untuk kembali ke dekapan? Melengkapi kekosongan jiwa yang telah menjadi rumahnya. Dalam jutaan detik yang telah terukir dalam benak terdalam, sejak perjumpaan pertama kita bertahun-tahun yang lalu.

2009

Hari ini kepenatan kembali menghampiriku. Ah, lagi-lagi yang ada di depan ku hanyalah sebuah layar kosong dengan kursor yang terus berkedip tanpa lelah. Atau mungkin dia telah begitu capek. Seperti tubuhku, seperti otakku. Menulis naskah tesis tidaklah semudah mengarang cerpen cinta picisan.

Aku putuskan bahwa aku membutuhkan kopi untuk sekedar menyegarkan otakku. Aku beranjak bangun dari dudukku dan pergi menuju lorong tempat mesin kopi berada. Tepat di ujung sana aku melihatmu. Sosok lelaki tegap, berkulit putih dan berkacamata bulat yang bertengger di wajah dengan rahang yang kuat. Kamu berdiri disana dengan ekspresi bingung seolah mencari sesuatu.

“Halo Kang, cari siapa ya?” Secara refleks aku bertanya, kemudian juga mengenalkan diriku. Dan kamu segera membalas dengan senyuman. Senyuman termanis dari seorang lelaki yang pernah kulihat. Kini jelas sempurna, senyuman itu terhias dengan lesung yang dalam di kedua pipimu. Kemudian kamu pun balas menyapa, “Hai Ratih, Saya Dimas dari Fakultas Ekonomi, Pak Dekan ada?”. Suaramu terdengar begitu berat. Kamu begitu sempurna Dimas, Begitu sempurna.

2010

“Hai Ratih, kamu ikut trip kuliah lapangnya Prof. Darmaji kah? Saya diajak Prof. Mutia nih untuk bantu jadi asistennya di bagian Ekonomi tradisional. Kayanya bakal seru ya…kerja sambil liburan. hehehe, I trully need it actualy”, sapamu siang itu di salah satu pojok kantin yang telah menjadi tempat favorit kami untuk bertemu di kampus.

Aku membalas sambil mengacak anak rambut yang sudah agak memanjang di dahinya, “Wow, which one is that? Kerja jadi asistennya atau liburannya?”.

“Ya liburannya lah Ratih cantik. Kamu tuh!!!! So, gimana kamu ikut juga ga? Bakal seru nih kalo kita bisa liburan bareng. Belum pernah kan?”

“Ya..ya..ya, Dimas….aku ikut kok. Diajak juga jadi asdos sama Prof. Darmaji. Dia mau coba cari data buat penelitian kecil disana. Modernisasi masyarakat pesisir.”

“Yes, this trip will be awesome! I can feel it Ratih”. Sambil merangkul kecil, kamu membalas senang dan lagi-lagi lesung pipi itu menghipnotisku.

Tepat seminggu kemudian, kita berdua benar-benar melakukannya.

Perjalanan pertama bersama selama satu bulan. Ya, aku tahu ini bukan berarti bersama hanya berdua dengan kamu. Perjalanan ini juga mengikutsertakan setidaknya empat profesor dan dua puluh mahasiswa lainnya. Namun tetap saja, ada sesuatu yang menggetarkan relung ini, begitu jauh di dalam hati. Layaknya jutaan kupu-kupu menari di sana. Saat itu, kamu tertidur pulas disampingku. Kepalamu bersandar di pundakku begitu nyaman, bibirmu tersenyum bahagia seolah kamu bermimpi indah. Beberapa profesor itu melirik penuh arti ke arah kita berdua. Aku malu, tapi aku pun tak mau mengganggu tidurmu. Akhirnya aku ikut memejamkan mata. Menyandarkan kepala diatas kepalamu. Rasanya tertidur adalah pilihan terbaik, lagipula perjalanan ini masih cukup panjang. Masih enam jam lagi sebelum kita sampai di tujuan.

“Ratih, temenin saya cari kepiting yuk dihutan pantai nanti malam. Saya tiba-tiba kepingin makan kepiting segar. Nanti saya masakin deh buat kita berdua.”, ajakmu di suatu sore di hari ketujuh kunjungan kita di tempat ini. Aku membalasmu dengan anggukan dan senyuman. “Hmmm, tapi Mas?” aku tiba-tiba saja menjadi sedikit ragu.

“Tapi apa say?”

“Malem-malem kamu serius? Sama siapa aja? Enggak apa-apa nih? Kita kan enggak kenal-kenal banget sama hutan pantainya. Kata warga sini banyak ular dan ada biawaknya loh disana, kok aku jadi ragu ya?”

“Berdua aja ya say, tenang lah, saya sudah beberapa kali keluar masuk kok. Saya lihat beberapa sarang kepiting disana, so I know where we go dan…kita bisa coba tepian pantainya dulu, siapa tahu enggak perlu terlalu masuk ke dalam.”

“Well, okay if you say so. I am in.”

Malam itu kita berjalan santai menuju hutan pantai. Aku dan kamu berjalan beriringan. Sesekali tanpa sengaja kedua punggung tangan kita bertemu. Kita bercerita lepas, sesekali tertawa ringan, saling menggoda, saling membujuk, dan kita adalah tim yang cukup solid saat bekerjasama menangkap beberapa kepiting segar malam itu. Setelah lelah berlarian ke sana ke mari untuk berburu kepiting. Kita berdua berbaring di tepian pantai, diatas pasir putihnya yang masih terasa hangat sisa terbakar matahari sepanjang siang. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur nafas yang menderu serta menenangkan kencangnya detak jantung yang bukan dipengaruhi oleh acara berburu kita malam ini, tapi hadirmu, berbaring disampingku, saat ini.

“Say, coba deh kamu lihat jajaran bintang diatas sana. Coba kamu perhatikan baik-baik bintang yang berkelip diatas kita percis, kalau kamu ikuti arahnya dari satu bintang yang berkelip paling terang itu terus ke arah bawah sebanyak empat bintang, kemudian dari titik bintang ke empat kamu ikuti bentuk persegi. Kamu akan lihat kalo jajaran bintang itu membetuk seperti gagang dan gayungnya, kamu lihat ga?”

“Hmmm, sebentar…ya aku liat, wow, cantik.”

“Yap, itu disebut  sebagai rasi Ursa Mayor. Petunjuk arah utara yang digunakan oleh para nelayan kita saat berlayar. Trus…hmmm, coba deh kamu sekarang perhatikan bintang yang jauh ada disebelah kanan kamu. Ada tiga bintang kembar yang lurus berjajar. Itu disebut sebagai sabuk Orion. Jaman dulu banget, para petani menggunakan rasi bintang ini untuk memulai menggarap sawah mereka. Hebat ya para leluhur kita itu.” Kamu dengan cerdas menjelaskan sambil membantu mata ku menatap ke arah yang kamu tunjuk. Kamu berbaring miring ke arahku. Wajahmu begitu dekat dengan wajahku. Dapat aku rasakan hembusan napasmu yang tenang, dan harumnya nafas beraroma mint itu, ah. Jantung ini semakin kencang berdetak.

“Oh well, rasanya sudah cukup istirahat kita, say. Yuk, balik ke penginapan, sebelum semua orang berpikir aku menculik kamu di tengah hutan.” Sahutmu sambil tertawa kecil.

Dimas Galuh Santiago. Mengapa aku harus memiliki rasa ini untukmu. Kita hanyalah sepasang sahabat. Tak boleh kurang tak boleh lebih. Seharusnya hati ini hanyalah menjadi milik dia yang menungguku disana. Kamu pun begitu, akan ada dia yang dengan mesra memelukmu saat kau kembali nanti.

Malam ini adalah malam terakhir perjalanan kita. Kembali berbaring santai di tepian pantai ini telah menjadi kebiasaan kita sejak perburuan kepiting tiga minggu lalu. Malam yang tak kan mungkin terlupa.

“Say, aku seneng banget loh, kita berdua ikut trip ini”, aku memulai percakapan kita senja itu. “Sama say, saya juga seneng banget. Gak nyangka yah kita bisa jadi sahabat yang sedeket ini. Bareng kamu tuh, rasanya seperti menjadi lengkap. Seolah saya bertemu dengan setengah potongan jiwa yang hilang ahahaaaaa…sok ngegombal nih saya malam2 say”, kamu membalas dengan kejahilan yang menjadi ciri khasmu. “Memang dasar playboy, womanizer. Rasain punya soulmate yang modelnya kaya aku hehehe”, timpalku seolah menetralkan suasana. Kamupun tertawa dan mengajak rambutku. “Hahahaaa….iya ya, kasian bener saya punya pasangan jiwa kamu”. Kita berdua tertawa. Namun tawa ini tidak bisa memendamkan gejolak yang ada. Aku yang tak juga sepenuhnya memahami, merasakan hal yang sama sepertimu. Bersamamu, bagaikan menemukan kembali sebagian jiwaku yang hilang. Seolah aku telah mengenalmu selama puluhan kehidupan yang berlalu sejak jagat raya ini tercipta. Berlebihankah rasa ini, Dimas?

2011

“Ratih….saya jadi nih berangkat ke California bulan depan. Akhirnya si profesor di Stanford bilang saya bisa sesegera mungkin memulai proyek untuk PhD, how cool is that?”

“Wow…awesomely perfect. Congrats Mas, I am very proud of you.”

“Hahaha, thanks Say, By the way kamu sendiri gimana? Proyek evolusi budaya masyarakat Indonesia-mu itu udah sampai mana sih? Apa kamu masih harus balik ke Jepang buat diskusi sama professor disana?”

“ Ya iyalah mas. Setelah beres aku ambil beberapa data lagi di daerah timur Indonesia. Mungkin aku juga akan riset ke wilayah Papua. Biar datanya komplit mewakili keseluruhan Indonesia. Akhir tahun kayanya aku balik ke Tokyo.”

“Nice, well done Say. Ngomong-ngomong setelah kamu putus dengan you know who, belum ada lagi nih cerita gebetan baru. Gak ada yang ganteng ya diseputaran kampus”

“Ah, malas Mas..Cukup dulu deh, tiga tahun yang kelam bersama dia. Hehehe. Lagipula aku mau konsen dulu dengan studiku. Biar lancar jaya. Aku gak perlu mikir yang lain-lain. Lagipula kan ada kamu yang selalu setia nemenin aku disini.” Balasku merajuknya.

“Ya iya sih Say, tapi kan bentar lagi saya bakalan pergi jauh nih. Nanti kamu kesepian lagi”

“Ih, kok aku jadi terkesan manja gitu sih ke kamu. Kamu udah biasa juga aku tinggal-tinggal pergi buat riset kan hehehe. Gapapa nanti kita nyaingin orang yang pacaran yuk. Pake istilah Sahabatan Jarak Jauh, LDF, Long Distance Friendship hehehe. Eiya, ngomong-ngomong gimana kabar Ayu? Udah enggak cemburuan lagi kan dia sama aku”

“Well, looks like it. There is nothing worth to be jealous between us, right?”

“Yaaaa, of course.”

2012

Panggilan skype call itu akhirnya berakhir. Dimas putus dengan Ayu. Suatu kabar yang seharusnya menggembirakan untukku. Penantian yang akhirnya usai. Mungkin aku dan Dimas akan memiliki masa depan yang sedikit jelas. Yah, sedikit…atau mungkin malah tidak ada yang akan berubah. Entahlah. Aku pusing. Aku baru saja menemani dia berduka selama kurang lebih tiga jam. Tiga jam yang digunakan untuk menenangkannya. Menghiburnya dengan obrolan-obrolan asal kami yang memang selalu menghangatkan, harapan ku dia menjadi lebih baik sekarang. Perpisahan itu akan selalu terasa berat. Tak peduli siapa yang sesungguhnya bersalah atau malah diuntungkan. Mengucapkan perpisahan selalu menyakitkan dan menimbulkan goresan luka yang meninggalkan coret marut di sepanjang hidup kita.

Kulirik jam weker di sudut meja mini di dalam kamarku ini. Pukul satu pagi lewat sedikit. Untungnya hari ini adalah weekend, aku masih bisa merencanakan untuk tidur panjang, sebelum siang nanti menikmati indahnya Tokyo di awal musim semi. Ya, aku berjanji untuk berjalan-jalan santai dengan mas Eko siang nanti. Menikmati daerah sekitar stasiun Harajuku yang tak pernah membosankan dengan penampilan street fashion para pemuda Jepang, berjalan kaki selama lima menit dari stasiun itu untuk menikmati sakura blossom di  Yoyogi Park, untuk kemudian makan siang di salah satu café di kawasan Omotesando sebelum kami mengunjungi Meiji Shrine. Tampaknya ini akan menjadi rencana Sabtu siang yang menyenangkan.

Mas Eko atau Eko sempai adalah seniorku di lab. Dia telah menyelesaikan PhD-nya tahun lalu dan saat ini melanjutkan postdoc-nya untuk lebih dalam mempelajari masyarakat tradisional Jepang. Eko sempai yang bernama lengkap Eko Yamagawa sebenarnya masih memiliki darah seorang Jawa yang didapatkannya dari sang nenek yang merupakan pribumi asal Kediri, Jawa Timur. Mungkin karena itu kedua orangtuanya memberi nama kecil Eko, walaupun Eko dalam bahasa Jepang juga berarti sinar kebijaksanaan. Nama yang menyandang pengertian cukup berat, bukan?

Menurut Eko sempai, kakeknya yang saat itu adalah seorang kapten tentara yang bertugas pada masa penjajahan Jepang sangat mengagumi keindahan budaya Jawa yang tidak begitu jauh berbeda dengan budaya Jepang. Kakeknya kemudian jatuh hati pada seorang gadis putri adipati yang memerintah kala itu. Gadis Jawa tersebut lalu diboyong oleh sang kakek ke Kyoto, kampung halaman beliau, sesaat setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Kisah yang cukup romantis layaknya dongeng-dongeng di negeri barat.

2013

1 Januari.

Semalam aku merayakan malam tahun baru yang sangat berkesan. Hubunganku dengan mas Eko juga semakin mengarah ke tahapan yang serius. Bukannya aku telah melupakan Dimas. Tidak, kenangan akan sosoknya tetap menempati relung hati yang terdalam. Kami masih menjalankan LDF, California-Tokyo. Berbagi semua cerita termasuk bule lokal yang kini menjadi salah satu teman dekatnya disamping mahasiswi program master asal Indonesia yang hendak dijodohkan oleh teman-temannya sesama mahasiswa Indonesia di sana dan kenangan akan Ayu yang diakuinya masih sangat menghantui. Dimas masihlah Dimas yang dulu. A womanizer.

Dimas pun tampaknya tidak pernah keberatan dengan cerita-ceritaku seputar Mas Eko. Semua ini menetapkan hatiku untuk berjalan ke depan. Kebersamaan ku dengan Mas Eko juga melengkapi bagian jiwaku yang lain. Seorang penulis terkenal pernah menyatakan di salah satu karyanya bahwa belahan jiwa tidak selalu berarti sepasang jiwa yang terpisah. Dia bisa menjadi banyak serpihan dari satu jiwa yang berserakan sesaat sebelum kita terlahir kembali. Sangat beruntung bagi mereka yang hanya menemukan satu belahan jiwa sepanjang masa hidupnya. Dan akan menjadi sangat menyiksa saat serpihan belahan jiwa itu berkumpul menemuimu dalam satu masa kehidupan yang sama, dimana kau akan bertemu dengan dua, tiga, atau bahkan empat dari mereka. Mungkin seperti inilah rasanya. Aku yang menyayangi kedua belahan jiwa ini. Dan aku harus memilih, seorang dari mereka, karena aku tidak cukup egois untuk memiliki semuanya.

Mas Eko melamarku semalam, tepat tengah malam, saat lonceng kuil Zojo-ji berdentang menyambut segala harapan di tahun yang baru. Mas Eko menarikku di bawah pohon Himalayan Cedar, sebuah pohon raksasa bersejarah hadiah dari Ulysses Grant, presiden Amerika ke-18, saat beliau mengunjungi Tokyo di tahun 1879. Malam itu, Himalayan Cedar  yang berdiri gagah mejulang tinggi ke angkasa itu juga menjadi saksi bisu hubungan kami. Mas Eko berlutut dengan kimono klasiknya di depanku, mengeluarkan kotak kecil dari balik kimono dan menarik tangan kiriku. “Ratih Candra Kirana, maukah kamu menjadi satu-satunya teman hidupku, berbagi suka dan duka, menua dengan kulit keriput dan rambut yang seluruhnya memutih, saling mencintai hingga kematian memisahkan kita? Menjadi wanita yang selalu berada disampingku, menjadi teman, sahabat, adik, kakak, bahkan terkadang musuh yang selamanya bersama. Maukah kamu menikah denganku?

Detik itu, aku hanya bisa terpaku. Mataku berkaca-kaca dan akupun menangis sejadi-jadinya. Pemandangan yang mungkin tidak terbayangkan oleh Mas Eko sebelumnya. Mungkin dia membayangkan aku yang terloncat bahagia, berteriak “aku mau Sempai”, semuanya dengan pancaran wajah dan senyum bahagia. Bukannya dengan isakan tangis panjang yang membuatnya langsung memucat.

“Ratih-chan, apakah saya terlalu berlebihan? Maafkan saya apabila bukan ini yang sebenarnya kamu harapkan. Maafkan saya”, tegasnya sambil memelukku erat. Aku hanya bisa menangis. Selama kurang lebih lima belas menit kedepan, aku hanya menangis, mengeluarkan semua emosi yang menghimpitku bertahun-tahun ini. Kenangan akan Dimas bermain satu persatu dan bagaimana kemudian kedewasaan serta sikap welas asih Mas Eko memberikan kesejukan yang berbeda bagiku. Menciptakan kenyamanan, rasa aman, seperti pulang ke dalam rumah yang memberikanku rasa rileks luar biasa. Seperti saat ini, saat dia memelukku erat.

Saat aku perlahan bisa menyelaraskan semua gejolak rasa yang ada. Menenangkan hati dan pikiran. Aku pun berkata lirih. Yakin akan keputusanku malam itu. “Aku bersedia sempai”. Aku rasakan pelukannya meregang, dan degupan jantungnya semakin cepat. “Apa Ratih?”. “Aku bersedia Mas Eko  Yamagawa, Aku akan menjadi istrimu”, seulas senyum tipis menghiasi bibirku. Ada binar indah kutemukan di sepasang bola matanya. Binar mata yang teduh menentramkan hati. “Terima kasih sayang”, balasnya seraya mendaratkan kecupan hangat dikeningku, tanda kasih sayangnya.

Seminggu setelah proses pelamaran itu, kami sibuk merencanakan segalanya. Bertemu dengan kedua orangtua Mas Eko, seluruh keluarganya termasuk kakek-neneknya yang kisahnya cukup melegenda, setidaknya bagi kami berdua. Akhirnya kami sepakat untuk melaksanakan pernikahan di Bogor, di rumah kedua orangtua ku dengan perpaduan adat Jepang dan Jawa. Seluruh keluarga mas Eko akan hadir, termasuk kakek dan neneknya yang ingin bernostalgia akan Indonesia. Pernikahan tersebut kami putuskan untuk dilaksanakan akhir tahun ini. Sebelas bulan dari sekarang. Aku yakin aku telah memilih yang terbaik untuk semuanya.

2014

Tahun ini aku memutuskan untuk menetap di Bogor. Setelah persiapan dan perayaan pernikahan yang cukup melelahkan. Sudah cukup lama rasanya aku tidak berkonsentrasi penuh untuk menyelesaikan studiku. Well, sudah saatnya pikirku.

Sejak pernikahanku, Dimas juga masih memutuskan untuk tinggal lebih lama di Indonesia. Menyelesaikan pengambilan data, alasannya. Kami selalu menyempatkan diri untuk bertemu dua kali seminggu apabila dia tidak sedang berada di luar kota, seperti siang itu kami akan bertemu di sudut kantin kampus favorit kami. Layaknya tahun-tahun sebelumnya,  sebelum LDF kami, sebelum statusku berubah. Kami masih bersikap seperti biasa, aku dengan seluruh kemanjaanku, dia dengan seluruh kejahilannya. Cerita-cerita serunya akan berbagai kegiatan selama kami berpisah, termasuk sedikit keputusasaannya untuk juga mengikuti jejakku yang tiba-tiba terlontar siang ini.

“I am a highly hot bachelor in the area don’t you think?”, tiba-tiba Dimas berkelakar disampingku. Masih ada rasa panas membakar relung hatiku memperhatikan sikapnya siang itu. Apakah ini cemburu? Apakah aku masih merasakan cemburu untuknya?

“Ahahahaaaa…Kamu tuh Say, gak pernah berubah, sok gantengnya tetep aja ya nempel. Tobat. Pilih salah satu. Aku perempuan loh. Gak enak kalo kayanya malah dipermainkan gitu perasaannya. Gak jelas statusnya gimana. Ayo ah nanti pamali. Kamu kan punya adik perempuan. Kalo adik kamu digituin sama laki-laki gimana?”, jelas ku panjang lebar.

Aku lihat kejengkelan terbesit di wajahmu. Senyummu memudar. Seolah kamu menarik diri. Mungkin gestur tubuhku pun memperlihatkan hal yang sama. Kita menyudahi siang itu dengan sedikit basa-basi. Itulah kali terakhir kita berbagi cerita. Selanjutnya, aku kehilangan lagi serpihan jiwa yang dulu sempat memenuhi kekosongan di setiap relungnya.

Kita berpisah tanpa pernah mengucapkan kata perpisahan.

2015

Ada satu sudut di hati ini yang akan selalu terisi oleh namamu. Segalanya telah benar-benar berubah. Tak ada lagi kita yang terukir dalam memori membentuk kenangan jangka panjang. Tak ada yang perlu dibentuk lagi sepertinya. Karena kamu telah sepenuhnya melupakan kita. Melupakan aku.

Pasangan jiwa itu telah menjadi bagian dari kenangan. Sejarah dalam hidup yang cukup untuk disimpan dalam museum kisah hidup kita masing-masing. Selayaknya aku masih menjadi sahabatmu. Seharusnya kamu mengabarkan kepulanganmu dan kita bisa kembali berbagi cerita seperti dulu. Ataukah permintaanku ini sangatlah egois.

Dimas Galuh Santiago, aku tahu kamu telah kembali ke tanah air sejak enam bulan yang lalu. Aku mengetahuinya dari sesama rekan di Fakultasmu, bahwa kamu telah kembali mengajar dan mengabdi untuk negeri ini. Sebegitu sibuknya kah dirimu, hingga tidak ada sedikitpun kesempatan menyapa sahabat lamamu yang begitu merindukan mu? Aku masih mengingat semuanya Dimas Galuh Santiago. Pertemuan pertama kita yang tidak disengaja. Senyum di lesung pipimu yang begitu menggoda. Jalinan persahabatan kita yang begitu unik dan istimewa. Kamu yang masih merupakan serpihan jiwaku yang hilang. Sampai kapan kamu akan menghilang kali ini?

Pernah aku termenung memikirkan kita, hampir dua tahun yang lalu sesaat sebelum hari pernikahanku tiba. Kamu dan aku layaknya sepasang sepatu. Kita tampak begitu serasi, begitu saling melengkapi. Namun kita berdua juga sama-sama tahu, bahwa apa yang kita miliki ini tidak akan pernah bisa membuat kita “satu”.

“Kita adalah sepasang sepatu, selalu bersama tak bisa bersatu
Kita mati bagai tak berjiwa, bergerak karena kaki manusia

Aku sang sepatu kanan, kamu sang sepatu kiri
Ku senang bila diajak berlari kencang, tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan, tapi aku takut kamu kedinginan

Kita sadar ingin bersama, tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua, terasa sedih bila kita di rak berbeda
Di dekatmu kotak bagai nirwana, tapi saling sentuh pun kita tak berdaya

Cinta memang banyak bentuknya, mungkin tak semua bisa bersatu.”

-Tulus; Sepatu-

(Rianti, Juli 2016)

(Cerpen terinspirasi dari kisah: “Hanya hampir, itu saja!” dan lagu Tulus – Sepatu)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.