Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

Pulang

Setelah berapa puluh purnama aku akhirnya menginjakkan kaki lagi di kota ini. Pulang.
“Sering-seringlah tengok tanah kelahiranmu. Walau mungkin aku sudah mati, tapi kota ini mati tak akan pernah”, demikian kata almarhumah ibuku entah berapa tahun lalu.

Dan kota ini amat sangat banyak berubah, walau baunya tetap saja yang lama. Aroma bunga mekar dan tanah basah terkena hujan pertama.

Waktu terkadang hanya pengulangan-pengulangan yang semu. Senja yang basah tetap saja senja yang sama, seperti dulu waktu ibuku selalu menggulung dan melipatnya di sudut kamar. Untuk kemudian menggelarnya lagi esok hari, agar anak-anaknya lekas pulang ke rumah.

Dan pagi yang dulu selalu dicuci oleh ibu setiap hari kemudian juga menyapa. “Selamat datang anak hilang, mana celana pendek birumu itu bocah? Dulu engkaulah yang selalu tiap hari menyambutku gembira!”, demikian katanya.

Senja, pagi, dan kemudian juga siang serta malam menyambutku dengan riang. Mereka tak pernah tua, tetap saja sama. Menyambut si anak hilang yang tersesat pulang.

Sementara aku kadang tergugu. Semua berubah walau semua tetap sama.

Dan ketika aku susuri lagi jalan-jalan di kota, seakan aku melihat lagi sepeda torpedo tua yang dikayuh almarhum ayah untuk menjemputku sekolah. Senja, pagi, siang, dan malam mengiringinya sepanjang jalan.

Sambil bernyanyi riang Malang Kota Indah.
.

.

Malang, 3 Januari 2017

(Karya: Dicky Edwin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *