Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

Manusia Sejuta Perkara

Udara mulai dingin ketika Aji menginjakan kaki di stasiun. Dia merapatkan jaket dan memakai tudung jaket untuk kepalanya yang tidak ingin kebahasan karena hujan. Derap sepatu bootsnya mampu melewati genangan air. Orang-orang berhamburan keluar dari kereta dan berlarian ke peron berikutnya. Petugas keamanan stasiun sibuk menertibkan orang-orang yang egois. Pemandangan yang membuat orang sesak nafas. Semuanya saling mendahului ingin masuk kedalam kereta yang kapasitasnya sudah tidak muat lagi.

Aji menghela nafas. Berdiri pada peron ketiga. Memperhatikan. Berada di tengah-tengah kerumunan bukan kesukaannya. Menenggelamkan dunianya pada suara musik di headset.

“Ah orang-orang sibuk ini…” Gumamnya pelan.

Aji masih mengamati orang-orang di sekelilingnya. Ada yang melangkah terburu-buru dengan memakai high heels dan beberapaa file di genggamanya. Ada yang tersenyum-senyum sambil mengetik beberapa kalimat di handphonenya. Ada yang menerima telepon sambil merokok seolah-olah dia menikmati obrolannya. Ada yang membawa barang bawaan yang sangat banyak. Stasiun merupakan tempat yang sangat sempurna untuk mengamati kesibukan orang-orang. Apa yang mereka kejar? Apa yang mereka tuju dengan perkaranya itu? Kebahagiaan? Atau kesuksesan?

“Ah aku tak habis pikir dengan mereka…” Gumamnya lagi.

Kereta tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Dia memandang diri sendiri lewat pantulan kaca.

“Itukah aku? Dengan pakaian kaos dibalut jaket denim? Itukah aku? Seseorang yang tidak mempunyai perkara apapun? Tidak! Aku punya perkara sendiri. Kuliah hanya sekedar formalitas belaka. Lalu apa yang pantas aku banggakan?”

Manusia-manusia itu dengan sejuta perkara. Apakah tidak sulit menjalaninya? Atau mereka sengaja mencari perkara untuk kehidupannya agar tidak menoton? Terjebak dalam siklus lahir-sekolah-bekerja-mati. Perkara itu seakan menguasai manusia. Ingin di prioritaskan satu sama lain. Naluri manusia mengatakan bahwa hidup itu suatu perkara yang harus di jalani.

“Ah iya..”

Aji teringat dengan temannya di kampus. Seseorang yang terbilang sangat aktif di berbagai organisasi kampus, hingga menjabat sebagai ketua dan direktur. Bukan sejuta perkara lagi, mungkin bisa dibilang ratusan perkara. Isi kepalanya hanya perkara-perkara yang harus di selesaikan atau di realisasikan. Kehidupannya terbilang sama seperti pelacur, bekerja hingga pagi kalau diperlukan. Entah karena alasan amanah dan tanggung jawab atau merasa ada yang di banggakan atas perkaranya itu. Seakan-akan pencapaiannya itu merupakan sebuah aset yang berharga hingga sampai tidak mengizinkan tubuhnya untuk bermetabolisme semestinya.

“Ji, kamu harus merasakan bagaimana bersosialisasi, rapat, atau berorganisasi. Kalau kuliah jangan langsung pulang” Katanya sewaktu mata kuliah akuntansi sektor publik berakhir sambil menepuk-nepuk pundak Aji dan meninggalkannya dengan cepat, dengan ratusan perkara di kepalanya itu.

____

Masih ada tiga stasiun lagi yang harus Aji lewati.

“Ah kalau di pikir-pikir dia juga sama…” Gumamnya.

Aji teringat dengan Nadia, teman sekampusnya yang punya segudang prestasi hingga ke luar negeri.

“Gini ya Ji…lu itu harus maju jangan berdiam di Indonesia aja. Sekali-kali kan punya pengalaman ke luar negeri”

“Oh gitu ya, Nad? Kenapa lu ngga di Indonesia aja, kenapa harus capek-capek ke luar negeri kalau perlu orang luar negerinya aja yang nyamperin lu ke Indonesia, ya kan? Haha”

“Tapi kan Ji Indonesia itu ribet apalagi kalau udah dirumah”

“Hah? Ah iya…”

Keluar negeri ya? Satu hal yang orang damba-dambakan. Sebuah pencapaian yang membuat orang merasa iri atau merasa lebih hebat karena telah mengalahkan orang lain? Orang-orang ambisius itu berlomba-lomba untuk keluar negeri. Entah bekerja atau belajar untuk kehidupan masa yang akan datang. Mencari tempat perantauan yang lebih baik dan lebih menjamin. Itukah perkara mereka? Apa yang ingin di tuju? Sebuah masa depan?

____

Stasiun yang Aji tuju telah sampai. Dering handphonenya lagi-lagi berbunyi.

“Iya ini sudah turun dari kereta” Kata Aji berbicara kepada seseorang di telepon lalu menutupnya tanpa basa basi.

Aji berjalan keluar dari stasiun dan menghampiri seseorang yang dia sebut manajer di tempat parkir mobil.

“Jangan mengomel karena aku habis ketemu Ibu” Kata Aji kepada manajernya.

“Kita perfom jam 9 malam dan kita masuk di majalah ini” Manajernya memberikan majalah yang membahas tentang dirinya dan teman-temannya.

“Ayo kita berangkat” Aji mengacuhkan majalah itu dan melemparkan majalah di samping tempat duduknya.

____

“Ji kalau kamu ngga belajar masa depan kamu mau jadi apa?”

“Ah si kutu buku itu…” Gumam Aji dan membuka matanya karena tersadar hampir tertidur. Dia melirik majalah yang ada di sampingnya.

Kata itu tiba-tiba terlintas begitu saja. Teman sekampus yang katanya punya perkara lebih menjamin ketimbang dengan orang-orang yang gemar berorganisasi. Belajar.

“Mata situ ga capek apa belajar mulu? Situ sudah belajar optik kan? Seharusnya kalau sudah belajar pasti akan mencegah dan menjaga organ sendiri. Think!” Kata Aji menanggapi pertanyaan si kutu buku itu

“Ah sudahlah aku mau ngerjain tugas”

Perkara yang terlalu di komplekskan. Kesuksesan tidak di dapat hanya belajar dan nilai semata. Tidak perlu skripsi dengan judul berisi, cukup pengetahuan dan skill. Apa yang mereka tuju? Itukah perkara mereka? Dengan menutup diri dari lingkungan luar dan selalu belajar dan belajar. Apakah nilai yang mereka tuju? Ah pasti. Bagaimana dengan kehiduapan sosialnya? Ah pasti buruk, ya kan? Pastinya akan menjadi si jenius yang di perbudak karena tidak mempunyai skill untuk bersosialisasi.

Aji menatap ke luar jendela mobil. Embun mulai datang dikala dingin perlahan mulai pergi. Sore itu menjadi mendung, tapi tidak menutup kemungkinan untuk tetap melukiskan senja yang indah. Orang-orang tak berpayung berlari-lari kecil dari kejaran rintik hujan. Padahal sang hujan tidak bermaksud untuk menyakitinya. Orang-orang mulai mencari kehangatan di setiap celah tubuhnya berharap lemak-lemak itu bekerja. Padahal sang hujan tidak bermaksud untuk membekukan manusia. Di pertigaan jalan ada yang berbahagia dengan hadirnya sang hujan. Senyum lebar dengan baju lusuhnya menghitung lembaran basah yang cukup untuk membeli sebungkus nasi.

“Hm..perkara manusia”

Aji melihat ke arah spion tengah menatap supirnya yang tengah mengemudi. Sedangkan manajernya tengah sibuk membuatkan jadwal untuk dirinya dan teman-temannya.

“Aku ingin kita tour di Indonesia”

“Apa?” Tanya menejernya yang menatap Aji lewar spion itu. Aji memalingkan muka ke jendela. Tidak ingin menatap manajernya.

“Aku bilang, aku ingin kita tour di Indonesia. Itu target”

“Oke. Make it happen”

____

“ARE YOU READY FOR CHANGES??” Teriak Aji di atas panggung dengan gitar hitam kesayangannya. Teman-temannya sudah siap untuk mengguncang panggung itu malam ini. Instrumen musik telah dimainkan.

Semua penonton berteriak menyambut bandnya. Berteriak atas diri mereka yang membutuhkan semangat. Berteriak atas mereka yang mempunyai jiwa yang sepi. Berteriak atas hidupnya yang membosankan dan menonton penuh luka putus asa.

Di atas panggung yang luas. Dengan gemerlap lampu yang mengalahkan ratusan bintang di malam hari. Udara yang masih dingin tak mampu menghentikannya untuk menghibur mereka dengan musiknya. Aji terus memainkan gitar kesayangannya. Dia menikmati perkaranya yang satu itu. Perkaranya bukan mencari tepuk tangan atas karyanya, bukan penghargaan dan pujian dari orang-orang. Tapi perkaranya ingin membangkitkan mereka yang hampir putus asa lewat musiknya. Nikmat terlalu banyak untuk kita putus asakan. Aji ingin membagikan perkaranya kepada semua orang. Hidup memang tentang perkara, tapi hidup hanyalah dunia yang fana.

____

Pemakaman itu selalu sepi dengan orang-orang yang setia menunggu sang pendoa. Hanya rumput yang setia menemani di atas nisan. Selalu setia menunggu si pendoa datang dan mencabuti tubuhnya terpisah dengan orang yang kesepian itu. Tapi mereka pasti akan tumbuh di tempat lain, menemaninya lagi. Si pendoa yang satu itu selalu datang setiap hari, seperti biasanya. Tidak mengizinkan mereka untuk menemani nisan yang selalu si pendoa itu kunjungi. Hanya mengizinkan bunga mawar yang menemani di atas nisan. Si pendoa itu menganggap mereka sampah yang harus di buang.

            Si pendoa itu berjalan menuju makam yang penuh bunga mawar yang layu. Mereka mengamati dengan penuh haru. Si pendoa itu meengucapkan salam baru. Mencium nisan yang telah lapuk. Dan meletakan setangkai bunga mawar segar di antara mawar yang sedang layu. Kemudian si pendoa berjongkok dan mengirimkan berbagai doa. Mereka ikut mengamini.

“Ternyata aku mempunyai satu perkara untuk seumur hidupku. Yaitu Ibu. Perkara yang lebih berat dari sejuta perkara lainnya. Perkara yang sulit di laksanakan dari perkara penting lainnya. Aku tidak ingin mengesampingkan perkara ini. Seharusnya aku paham bahwa perkara-perkara itu tidak terlalu di banggakan, karena nanti aku akan menjadi seperti Ibu. Doa yang setiap hari aku panjatkan mungkin belum bisa menggantikan betapa tulusnya Ibu menuntunku menjadi seperti sekarang ini. Maafkan aku memilih jalan kesuksesan yang lain. Maaf kalau dulu aku sempat mengabaikanmu,Bu. Sekarang tak cuma mawar yang menghiasi makam Ibu tapi doa-doa tulusku akan selalu menjadi yang terindah untukmu” Katanya sambil menangis menatap makam yang selalu di kunjunginya.

Sedih itu mengundang awan mendung datang. Dengan angin yang menerbangkan mahkota-mahkota lapuk tak berdaya. Dengan angin yang melambaikan rerumputan. Si Pendoa itu segera bergegas dan mengangkat telepon yang sudah berdering berulang kali.

“Iya ini akan ke stasiun. Tunggu disana” Katanya tanpa basa-basi menutup teleponnya.

Karya: Rizka Novitasari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *