Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

Kegelapan (2015)

Aku terus saja melihat cahaya yang mungkin tak pernah kau mengandaikannya di aku
Aku hanya jiwa-jiwa kelam yang berharap diampuni
Aku tak pernah nyata, hanya bayangan yang segera terlupakan

Dalam hidup aku terus saja mencari rasa, rasa yang kau sisipkan di jiwaku
Peluang membuka harapan akan rasa yang sebenarnya adalah angan-angan yang terlalu hangat didadaku
Tapi hidup ini buatku mengoleksi beragam rasa dan ekspresi manusia termasuk kau di dalamnya

Kalau aku nanti ada di waktu depan, aku akan coba buatkan naskah kehidupan dimana hanya kau dan aku yang menjadi pemainnya, alurnya sengaja dibuat maju mundur, maju, mundur layaknya muntahan gelombang air laut, tidak akan ada yang sampai dan juga kembali
Terhempas, begitulah saatku mengeraskan jiwa akan takdir ilahi yang harusnya menjadi lazim, dalam hati
kumeminta
Sungguh aku ingin mengikiskan kelemahan di jiwaku, kelemahan yang muncul dari rasa, rasa yang amat rapuh bila tersentuh

Waktu terus saja merantaiku sangat keras, hingga napasku terasa sesak sampai aku berpikir bahwa oksigen tak lagi kubutuhkan
Momen, aku tidak pernah merinci masa lalu, masa kini, dan masa depan hingga aku menjadi semakin lupa akan apa pun yang buatku tersenyum
Aneh, mengapa makhluk seperti aku ada, selalu menentang arus hingga Tuhan pun jenuh dengan adanya aku dalam nyata ini

Aku tak pernah ingin menjadi copy-an masa lalu, yang bahkan Tuhan pun bisa sesuka hati mengintip semua jalan cerita hidupku, itu sangat tidak adil
Aku merasa begitu damai dalam gelap, yang orang lain sangat ingin menjauh, entah mengapa, aku tak pernah menyediakan waktu untuk berpikir tentang hal itu
Aku sangat bahagia dengan coretan hidup yang membekas di jiwaku sampai sekarang, buatku mampu meninggalkan sejarah untukmu yang akan hidup setelah hilang daari nyata

Terima kasih, untukmu telah mengantarku menuju gerbang kedewasaan, mengajakku tuk merasakan berjuta rasa manusia yang kian manis
dan setiap hari memakan,membakar habis diriku, serpihan abuku mendamba, ingin mencercap, melumuti dirimu yang tak kan pernah cukup dan aku yang selalu merasa berkurang. kita tak kan pernah satu.

Karya: Adi Darmawan

Leave a Reply

Your email address will not be published.