Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

Karya-karya Eka Kurniawan

Di bulan ini, kami ingin memperkenalkan seorang sastrawan Indonesia yang karyanya telah dialihbahasakan ke lebih dari 30 bahasa di dunia. Kami yakin nama Eka Kurniawan sudah tidak asing lagi bagi Anda & mungkin beberapa karyanya juga telah terselip manis di rak koleksi buku Anda. Yuk, kenalan lebih dekat lagi dengan Mas Eka 😉

Eka Kurniawan yang di lahirkan di Tasikmalaya 28 November 1975 ini sepertinya memiliki ketertarikan yang sangat kuat dengan sastrawan-sastrawan Indonesia, terutama mereka yang mengaryakan fiksi sarat dengan sejarah bangsa Indonesia. Salah satu diantaranya adalah Pramoedya Ananta Toer. Bahkan Mas Eka mengambil tema “Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis” sebagai judul skripsinya dan telah diterbitkan oleh 3 penerbit besar di Indonesia hingga saat ini. Tak heran kalau sarjana fakultas filsafat UGM ini sempat dikenal sebagai the next atau Pramoedya Ananta Toer junior lewat buah karyanya yang memang kental terpengaruh oleh legenda penulis sosialis Indonesia tersebut. Simak saja karya-karya Eka seperti Cantik itu Luka, kumpulan cerita pendek dan Lelaki Harimau. 

Selain itu tampaknya Mas Eka juga memiliki ketertarikan dengan hal-hal yang berbau mistis. Tak heran ia pun banyak berimajinasi mengenai mitos, iblis, dan hantu lewat bagian Cantik itu Luka, O, dan kumpulan cerpen kumpulan budak setan serta lainnya. Mas Eka dapat dengan sangat lihai memadukan unsur sejarah, mistis, dan humor di setiap karyanya dan membuat para pembaca setianya merasakan unsur kesegaran bermakna. Simak saja pada cerpen O, dimana dia berhasil “memanusiakan” hewan-hewan non manusia dengan penuh detail. Eka juga mampu menggiring pembaca menyelami isi pikiran para penderita schizophrenia dan  psikopatisme dengan sangat handal. Cukuplah pantas untuk seorang Eka Kurniawan memikat hati para pecinta sastra tidak hanya di tanah air namun juga mancanegara. Simak saja beberapa penghargaan internasional yang telah dia terima dan buku-buku yang telah diterjemahkan dalam banyak bahasa di seluruh dunia.

Bravo untuk Mas Eka Kurniawan akan prestasi yng mengharumkan nama bangsa & kami akan terus menantikan kejutan-kejutan baru dalam karya-karya selanjutnya. Sementara itu, mari kita lihat beberapa karya Eka Kurniawan yang telah beredar di pasaran saat ini.

  • Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis

Merupakan esai panjang mengenai perjalanan karya-karya Pramoedya Ananta Toer, terutama bagaimana buah pemikirannya sangat terpengaruhi oleh kondisi politi di dalam negeri maupun dunia pada saat itu. Kepiwaian Pramoedya menulis sastra fiksi yang kental dengan sejarah dunia membuatnya tercekal di ibu pertiwi namun dibanggakan oleh masyarakat sastra di dunia. Simak karya berikut, terutama untuk Anda yang ingin mengetahui sejarah kecil sastra Indonesia.

  • Corat-coret di Toilet – kumpulan cerpen

Ada 12 cerita pendek di dalamnya, seperti: Peter Pan (2000), Dongeng Sebelum Bercinta (2000), Corat-coret di Toilet (1999), Teman Kencan (1999), Rayuan Dusta untuk Marietje (2000), Hikayat Si Orang Gila (1999), Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam (2000), Siapa Kirim Aku Bunga? (2000), Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti (2000), Kisah dari Seorang Kawan (1999), Dewi Amor (2000), dan Kandang Babi (2000). Kumpulan cerpen berlatarbelakang sejarah politik Indonesia ini sarat akan fakta yang dikemas dalam fiktif satire Indonesia. Simak resensinya lewat MaknaKata melalui link ini.

  • Gelak sedih – kumpulan cerpen

Kumpulan cerpen berikut menerbitkan kembali kumpulan cerita dalam Corat-coret toilet ditambah 9 cerpen anyar seperti berikut ini: Gelak Sedih (2000), Hujan (2003), Bercinta dengan Barbie (2001), Dongeng Terindah untuk Alamanda (2001), Perempuan yang Bercinta dengan Iblis (2001), Lelaki Sakit (2003), Kemarin Aku Lupa Merindukanmu (2005), Assurancetourix (2003), Bibi (2004).

  • Cinta Tak Ada Mati – kumpulan cerpen

Diterbitkan di tahun 2005, umpulan cerpen ini memuat 13 cerita pilihan, seperti: Cinta Tak Ada Mati (2003), Kutukan Dapur (2003), Lesung Pipit (2004), Jumat Ini Tak Ada Khotbah (2004), Surau (2004), Mata Gelap (2002), Ajal Sang Bayangan (2004), Penjaga Malam (2004), Caronang (2005), Bau Busuk (2002), Pendekar Mabuk (2004), Pengakoean Seorang Pemadat Indis (2005), Para Musuh (2005).

  • Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta melalui Mimpi – kumpuan cerpen

Kali ini Eka mulai menulis cerpen dengan kisah romantisme yang kental walupun masih bernafaskan surealis.  Simak saja karya-karyanya berikut ini: Gerimis yang Sederhana (2007), Gincu Ini Merah, Sayang (2007), Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (2012), Penafsir Kebahagiaan (2007), Membuat Senang Seekor Gajah (2014), Jangan Kencing di Sini (2012), Tiga Kematian Marsilam (2006), Cerita Batu (2014), La Cage aux Folles (2007), Setiap Anjing Boleh Berbahagia (2013), Kapten Bebek Hijau (2011-2013), Teka-Teki Silang (2006), Membakar Api (2009), Pelajaran Memelihara Burung Beo (2007), Pengantar Tidur Panjang (2009).

  • Cantik itu Luka

Cantik itu luka merupakan novel perdana dari Eka Kurniawan. Pada kisah ini kita akan diajak bertamasya ke dalam tiga era penting dalam sejarah politik awal Indonesia, masa penjajahan Belanda, Jepang, dan masa komunis. Melalui buku inilah Eka mendapat julukan the next Pramoedya. Simak ulasan kami mengenai buku ini pada link ini.

  • Lelaki Harimau

Melalui cerpen ini Eka menunjukkan kematangannya dalam menulis. Dia kembali mengkombinasikan unsur cinta, politik, dan mitologi dalam karyanya dengan lebih mendetail dan imajinasi tak terbatas.

  • Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Seperti kisah kisah sebelumnya, pada novel kali ini Eka mengajak kita untuk menyelami perilaku manusia yang dapat menjadi binatang dan binatang yang menjadi sufi. Novel bergenre satir surealis ini  kaya akan imajinasi dan pemikiran-pemikiran yang mungkin belum pernah Anda duga sebelumnya.

  • O (Tentang monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut)

Novel ini mengajak kita untuk membuka hati, mata, telinga, dan pemikiran untuk tidak hanya terkungkung pada bingkai “Manusia adalah makhluk paling sempurna di muka bumi ini”. Bagaimana rasanya apabila kita bisa menyelami pikiran-pikiran makhluk hidup lainnya yang kera berada di sekeliling kita. Binatang-binatang yang kerap menjadi hewan peliharaan atau terhina karena dianggap iblis dan najis. Mereka adalah makhluk bernyawa, makhluk yang juga punya hati, makhluk yang juga dapat menangis akibat siksaan manusia. Selengkapnya, Anda bisa membaca sinopsis dari buku ini pada link sahabat MaknaKata ini.

Selamat berlibur bersilaturahmi bersama keluarga & sahabat dengan menikmati karya sastra Indonesia.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.