Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

Cewek Munafik!

IMG_20160630_150006
“Terimalah suratku” Photo by; Winarti Nurhayu

“Kamu tau nggak? Kamu itu cewek munafik!” teriak laki-laki itu. Perempuan yang diteriaki hanya melongo. “Giliran aku punya duit kamu selalu ada buat aku. Sekarang? Giliran aku miskin, kamu kemana?! Kamu buang aku begitu saja! Aku sudah seperti sampah di matamu ya! Dasar Munafik! Cewek munafik!” Perempuan itu pun ditinggali dengan berbalutkan rasa malu.

“Mirana. Nama perempuan itu adalah Mirana. Dia termasuk perempuan cantik. Wajahnya putih bersih walaupun tanpa bedak. Semua laki-laki pasti terpana melihat cara jalannya.”

Tidak ada laki-laki yang tidak suka padanya. Bahkan Mirana selalu menjadi buah bibir laki-laki, dimana pun. Tubuhnya yang tergolong seksi pun menjadi bahan obrolan perempuan-perempuan bertubuh gempal. Mirana sering sekali dimintai tips untuk bisa mendapatkan badan seperti miliknya.

Mirana. Seorang perempuan pekerja keras dan berkemauan kuat. Sekarang dia bekerja di salah satu instansi swasta, walaupun hanya bergaji rata-rata. Mirana selalu mempertimbangkan uang yang masuk dan keluar dari rekeningnya. Dia gemar sekali menabung. Meskipun cantik, dia bukan tipe wanita gemar berbelanja. Dia selalu menabung, berapapun setiap bulannya. Mirana selalu berjaga-jaga jika ada keperluan mendesak. Dia tidak perlu repot-repot meminjam uang kepada teman-temannya jika dia sakit. Walaupun sulit, jangan pernah merepotkan orang lain. Yang paling penting, jangan pernah hidup dari belas kasihan orang. Begitu lah prinsip hidup Mirana yang hidup sendiri tanpa keluarga.

“Kamu mau nggak jadi pacarku?” tanya Balanar kepada Mirana setahun yang lalu. Balanar menggenggam tangannya erat. Lilin-lilin kecil menemani mereka malam itu. Balanar adalah seorang laki-laki pemilik usaha rumah makan seafood terkenal di Jakarta. Jangan tanya lagi omset perbulannya. Balanar berkenalan dengan Mirana saat Mirana dan teman-teman kantornya makan di rumah makan tersebut. Sebulan cukup bagi Balanar sebagai masa pendekatan. Mirana harus menjawab Balanar.

Mirana ragu karena dia bukan lah siapa-siapa dibanding Balanar. Balanar itu memang sudah kaya dari dulu. Orang tuanya merupakan pemilik pertambangan timah di Belitung. Sedangkan Mirana? Mirana hanyalah gadis perantau dari Lombok. Mirana diusir dari keluarganya karena tidak ingin dijodohkan dengan seorang tuan tanah. Masa lalu Mirana? Dia pernah bekerja di klab malam saking sulitnya mencari kerja. Kamu tahu kan wanita cantik di klab malam melakukan apa?

Namun Balanar tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Balanar selalu baik padanya. Mirana sangat takut. Apakah Balanar benar-benar baik atau kah sama seperti laki-laki di klab malam?

Dia hanya mengangguk kepada Balanar atas pertanyaan mengejutkan itu. Bintang-bintang bersinar terang malam itu. “Semoga saja ini merupakan jalan hidup baru bagiku”, doa Mirana dalam hati. Balanar menganggap anggukan merupakan jawaban “iya”. Balanar mencium kening Mirana.

Mirana selalu ada untuk Balanar. Balanar pun demikian. Mereka akan segera menikah tahun depan. Balanar berbeda dari laki-laki di klab malam. Cintanya tulus. Setidaknya sejauh ini begitu.

Siapa sangka setelah 6 bulan dari rencana pernikahan, usaha Balanar pun mulai hancur. Balanar kena tipu oleh pemasok bahan seafoodnya. Balanar memang payah. Jatuh cinta membuatnya lalai. Banyak sekali komplain dari pelanggan Balanar. Hal tersebut cepat sekali membuat rumah makan tersebut tidak laku lagi. Kalian tahu kan masyarakat kita? Kekuatan media massa kita? Semua usaha Balanar selama 5 tahun hancur berantakan. Balanar? Sekarang dia menjadi seorang pengangguran. Tabungan? Balanar sering sekali berfoya-foya. Investasi? Balanar tak paham itu. Orang tuanya? Ternyata Balanar anak pembangkang yang sudah lama tidak dianggap sebagai keluarga. Harapan hidup? Saat ini hanya Mirana, kesayangannya.

Tentu saja Mirana tidak meninggalkan Balanar. Mereka tetap berpacaran. Walaupun Mirana banyak terkejut dan mengetahui hal baru dari pribadi Balanar.

Jika Balanar membutuhkan uang, Mirana memberikannya (tentunya setelah menghitung uang di rekeningnya). Balanar sering menolak, tetapi Mirana tetap memberikannya. Mirana sering berkata, “Kapan-kapan gantian ya bayarinnya.” dengan senyum manis dan tatapan lembutnya itu. Mirana sangat yakin akan masa depan mereka berdua. Lagi pula, Mirana senang jika harus memiliki Balanar dari nol. Sama-sama berjuang.

Lama kelamaan, Balanar merasa rendah diri. Uang yang Mirana berikan terus menerus membuatnya tersinggung. Seperti banyak orang bilang, orang susah mudah tersinggung! Balanar mencoba menjauh dari Mirana. Balanar ingin bekerja lebih keras dan tidak menerima uang lagi dari Mirana. Segala cara dilakukan dari menjadi tukang ojek online sampai pegawai kantoran kelas teri.

Pekerja kantoran tidak seleluasa sebagai pemilik rumah makan. Yang namanya pekerja kantoran sekalipun, tetaplah akan disuruh-suruh. Sibuk sekali sampai lupa waktu. Balanar pun jarang sekali menghubungi Mirana. Balanar juga sudah jarang mengajak Mirana bertemu. Kerja kerja dan kerja! Hanya itu di kepalanya. Kerja sama dengan uang!

Mirana. Merana kah dia? Dia ingin sekali bertemu dengan Balanar. Mirana saja tidak tahu sekarang Balanar kerja dimana. Sudah sebulan Balanar tidak berusaha menghubungi Mirana. Balanar menjadi sangat tertutup. Selalu Mirana yang menghubungi Balanar.

Ingin bertemu pun tidak boleh. “Nanti saja ya. Aku lagi cari uang sekarang buat bertahan hidup. Nanti kalo aku udah bisa ketemu kamu, pasti aku kabarin. Aku ceritain semuanya.” Itu terus yang diucapkan Balanar. Mirana merasa ditinggalkan. Kalau cerita hanya saat bertemu, Mirana tidak akan tahu bagaimana keseharian Balanar. Apakah hubungan ini masih sehat? Begini kah cara orang berpacaran? Mirana pun hanya ingin bertemu sebentar saja. Ingin sekali Mirana melihat keadaan Balanar. Apakah dia baik-baik saja? Sudah makankah dia? Sehat kah dia? Sakit rasanya jika sama-sama berada di satu kota tapi tidak bisa bertemu. Sepertinya lebih bahagia orang yang LDR? Sakit rasanya jika seseorang yang kita sayang sudah menjadikan uang sebagai Tuhan. “Oh Tuhan! Lebih rendahkah aku dari uang?”

Mirana memutuskan untuk mengajak Balanar bertemu. Mungkin sedikit memaksa. Walaupun akan dimarahi tapi dia tidak peduli. Dia sudah terlalu rindu! Mirana menekan opsi “Send” di layar smartphone-nya.

“Aku ingin ketemu. Mau lihat kamu. Setengah jam saja. Di kantormu juga boleh. Aku yang kesana. Ya? Nggak akan ganggu rezeki kamu kan kalo cuma setengah jam?”

Smartphone Mirana berbunyi pukul 11 malam. Bintang hari ini tidak bersinar. Malam kelam hanya ditemani suara terbang kelelawar kelaparan.

“Kamu itu ya. Keterlaluan! Aku tahu aku sudah miskin sekarang. Jangan menghina begitu lah! Ganggu rezeki apanya?! Kamu tuh bisa mikir apa nggak sih! Kamu tuh satu-satunya harapan hidup aku sekarang. Tapi kamu malah ngerendahin aku kaya gitu. Kalau kamu bawel minta ketemu terus dan nggak bisa sabar, aku nggak mau ketemu lagi sama kamu tau nggak!”

Mirana ditinggalkannya tanpa kabar 2 hari setelah pesan singkat itu dikirim. Mirana jadi bingung. Sensitif sekali Balanar! Mirana tidur dengan rasa kecewa, dan akan bangun dengan rasa benci. Begitu lah hari-hari Mirana. Pacar? Ada. Senang? Tidak.

Akhirnya Balanar mau diajak bertemu Mirana di taman kota. Mirana membawakan bekal untuk makan siang bersama. Mirana yakin ini hanya masalah komunikasi. Rasa benci dikalahkan dengan luapan rasa rindu. Ternyata Mirana datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Dia sengaja datang cepat agar bisa memilih bangku taman yang nyaman untuk mengobrol dan makan walaupun hanya setengah jam. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu setengah jam yang sudah diberikan pacarnya itu. Hanya rindu yang ada dikepalanya.

15 menit kemudian terlihat sosok Balanar datang dari kejauhan. “Kurusan sih tapi tampak sehat”, pikir Mirana. Mirana sampai berdiri dan ingin memeluk Balanar. Sebelum sempat memeluk, Balanar berteriak “Munafik! Kamu cewek munafik!”

(Oleh: Winarti Nurhayu Р3.30 pm 11 Juli 2016; Tangerang Selatan)

“Jika uang adalah Tuhan, aku memilih tidak punya agama.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *