Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

Catatan Sang Nyai

Nyai & Pergundikan di Hindia Belanda Cover Book

Kata “Nyai” tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Beberapa tokoh fiktif seperti Nyai Dasima atau Nyai Ontosoroh bukan “orang” asing lagi bagi penggemar roman Indonesia. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Nyai berarti (1) panggilan untuk orang perempuan yang belum atau sudah kawin; (2) panggilan untuk orang perempuan yang usianya lebih tua daripada orang yang memanggil atau (3) gundik orang asing (terutama orang Eropa). Hmm… poin terakhir sangat menarik ya?! Baiklah dalam kesempatan kali ini saya akan berbagi catatan mengenai salah satu biografi bertema abad 19-20 di Hindia Belanda.

Dahulu, ada golongan totok (berdarah Eropa murni), indo (peranakan Eropa-Pribumi), dan pribumi di tanah Hindia Belanda. Berdasarkan strata sosial saat itu, golongan pribumi merupakan golongan ternista. Hampir disamakan seperti hewan. Dianggap tidak beradab. Golongan ini terletak di lapisan paling bawah dari piramida sosial Hindia Belanda. Ketika itu, menjadi seorang Nyai adalah sebuah pilihan untuk menaikkan harkat derajat keluarga di mata sosial. Tentu saja, menjadi seorang Nyai harus dipikirkan masak-masak karena memiliki konsekuensi yang berat. Dianggap sebagai pelacur atau orang yang nekat meninggalkan agama untuk urusan duniawi semata. Belum lagi perlakuan yang tak manusiawi oleh Tuannya. Seorang Nyai tak ubahnya sebuah guling di peraduan. Gundik untuk para penjajah. Tak jarang, ia dipisah paksa dari anak hasil pergundikan tersebut. Namun dalam hal tertentu, seorang Nyai tidak bernasib demikian. Wah, hal seperti apa sih? Teman-teman bisa menemukan jawabannya dalam buku Nyai & Pergundikan di Hindia Belanda yang tulis oleh Reggie Baay.

Buku Nyai & Pergundikan di Hindia Belanda merupakan versi terjemahan dari De Njai: Het Concubinaat in Nederlands-Indie. Buku ini merupakan buah kegalauan dan kecamuk batin dari Sang Penulis. Reggie Baay selama ini belum menemukan jawaban pasti tentang neneknya. Bagaimana paras dan kisah lengkap hidupnya. Satu-satunya hal yang ia tahu, sang nenek adalah Moeinah, seorang Nyai dari Surakarta. Namun sayangnya, informasi yang ia peroleh sangat minim, sehingga sang nenek tetap menjadi sosok misterius dalam hidupnya. Buku yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu pada tahun 2010 ini juga memuat profil beberapa orang Nyai dan nasib anak-anak peranakan.

“Yang disayangkan adalah bahwa ia tidak pernah merasakan kasih sayang; bahwa kebahagiaan hidup yang besar dengan kecenderungan saling berbagi kenikmatan dan jujur, tetap asing baginya. Ia tidak mendapat tempat di tengah masyarakat; ia bukan isteri yang sah menurut hukum dan tidak ingin menjadi ibu dari anak-anak yang tidak sah…” (Daum).

Buku ini saya beri bintang tujuh, hehehe… Sebuah referensi sejarah yang menyejukkan.

Salam,

A. Surya Dwipa Irsyam, 24 Mei 2016.

*Sampul dari google dengan sedikit modifikasi

0 thoughts on “Catatan Sang Nyai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *