Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

CASE NUMBER ONE (Part 3)

Disclaimer: Kejadian dalam cerbung ini hanya fiksi belaka. Murni pikiran penulis.

10 April

Dear Nana
Hari ini semua baik baik saja
Papa dan mama tidak bertengkar
Teman teman juga berlaku baik padaku
Namun kenapa kau tidak tampak disekolah
Masih banyak yang kuingin ceritakan padamu

————

11 April

Dear Nana
Hari ini kau akhirnya muncul menemuiku
Tenangnya hatiku menceritakan semuanya padamu
Kapan lagi kita akan bertemu
Ya, kuharap kau menjadi sahabatku selamanya

———–

20 Mei

Nana kau dimana
Aku butuh kamu sekarang
Papa pulang ke rumah, menghancurkan segalanya
Mama berteriak keras, membuatku takut
Aku takut Nana
Aku sendiri
Abang tidak pulang malam ini
Tolong datang Nana

Detektif Sigra hanya termenung diam membaca buku harian Shabita. Dia yakin ada yang bermasalah dengan remaja yang satu ini. Tapi dia masih butuh clue lain untuk menemukan keberadaan Nana, saksi kunci dari kasus ini.

Tok…tok…tok

“Ya masuk!”
“Malam Pak!”
“Eh kamu Rif, ada apa?”
“Mmm…bapak ditunggu Bos diruang kerjanya, perintahnya ada yg ingin beliau didiskusikan”
“Oke, makasih Rif…..oh ya, satu lagi, tolong kamu hubungin pihak sekolah Shabita untuk meminta rekaman cctv, khususnya tanggal 11 april”
“Siap laksanakan!”

***

“Selamat malam komandan!”
“Masuk Gra”
“Kata Arif, Bapak ingin bertemu dengan saya”
” Ya benar, saya ingin menanyakan perkembangan kasus Shabita Adalina”
“Mmm kalau yg itu pak…..sampai sekarang kami masih dalam pencarian saksi kunci dan beberapa barang bukti”
“Begini Gra, saya tahu kamu berkompeten, dan berpengalaman, tapi ini sudah hampir sebulan sejak kasus itu dibuka, kamu tau kan kalau Shabita itu anak dari politikus *****, posisi dia di pemerintahan Jakarta sangat berpengaruh, saya bukannya mau menjatuhkanmu, tapi saya sendiri juga ditekan dari kombes pusat untuk segera menyelesaikan kasus ini”
“Iya pak saya juga sedang berusaha”
“Untuk itu saya kirimkan bantuan ke tim kamu, ini titipan langsung dari Bos Besar”
“Bantuan apa pak?”
“Akan ada ahli psikologi yg ditugaskan ke timmu, namanya Nona Amadea Harizki”
“Tapi pak….bapak kan tau saya tidak mau bekerja dengan wanita”
“Iya saya tahu betul Sigra, tapi ini titipan dari bos”
“Tapi pak……”
“Ngga ada tapi-tapian, sekarang kamu silahkan kembali ke pos”

***

Sejak Sigra kembali dari kantor komandan Arif dan Gugun hanya berani melirik satu sama lain. Mereka tahu ada yang tidak beres dengan bosnya. Ketika bos mereka duduk dengan kedua kakinya terangkat ke meja merupakan tanda kalau bos sedang marah, tidak akan ada yang berani mengganggunya, bisa-bisa malah kena dampaknya. Arif yang semula ingin melaporkan mengenai cctv 11 april mengurungkan niatnya. Lebih baik menunggu suasana hati bosnya tenang kembali.

Brak!!!

Pintu ruangan terbuka dengan keras. Membuat Arif dan Gugun terhenyak kaget, terlebih-lebih dengan suasana ruangan yang kaku sedari tadi. Seorang wanita berusia sekitar 30an masuk dari balik pintu. Rambutnya panjang hitam terikat rapi. Blouse putih dan celana hitam panjang membuatnya terkesan seperti wanita kantoran.

“Permisi Bapak-Bapak, apakah disini benar kantor Tim Penyidik 1?”
“Iya”, jawab Gugun dengan suara sekecil mungkin.
“Kalau begitu siapa disini yang bernama Sigra Hermawan?”

Sigra tidak menggubris pertanyaan wanita tersebut, dia hanya diam memandangi agenda merah dihadapannya. Dengan takut-takut, Arif dan Gugun menunjuk kearah bosnya kepada wanita tersebut. Wanita itupun maju beberapa langkah sampai tepat persis didepan meja Detektif Sigra.

“Selamat Malam Pak Sigra, atau harus saya panggil Detektif Sigra?”

Sigra hanya terdiam tanpa bergerak sedikitpun.

“Perkenalankan saya Amadea Harizki, seorang psychologist analyzer dari satreskim Polda Jawa Barat”

Wanita itu mengulurkan tangannya namun Sigra masih tetap bergeming.

“Saya tahu anda mendengar saya. Saya bisa melihat dari gesture Anda kalau Anda tidak membaca agenda itu sama sekali. Mata Anda menatap kosong tanpa tujuan. Jari Anda juga bergerak bebas menandakan ketidakfokusan terhadap benda didepan Anda. Anda tertarik dengan saya namun Anda juga tidak menginginkan saya. Hmm…sepertinya kehadiran saya disini tidak diterima beberapa pihak”

“Agenda itu milik Shabita Adalina bukan?”, lanjut Amadea.

Sigra tidak menjawab apapun selain diam. Tanpa aba-aba, wanita itu menyabet agenda merah Shabita dari tangan Sigra.

“Hei! Apa-apaan kamu!”

Sigra bangkit dari duduknya mencoba mengambil kembali agenda tersebut.

“Saya ingin menganalisis agenda ini. Sudah merupakan tugas saya sebagai seorang psikolog”

“Tapi itu bukan mainan Anda! Itu barang bukti penting!”

“Dan inipun juga bukan punya Anda pribadi”

Wanita itupun lantas pergi dari ruangan. Meninggalkan Sigra dan kedua bawahannya yang tercengang melihat bos mereka dikalahkan oleh wanita yang lebih muda. Seandainya Sigra tidak ada diruangan tersebut, ingin rasanya Arif dan Gugun bertepuk tangan salut kepada wanita tersebut.

Karya: Aurora fathyaa

Ig: @au_9268

Leave a Reply

Your email address will not be published.