Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

CASE NUMBER 1 (Bagian 2)

*catatan penulis: cerbung ini merupakan fiksi belaka*

Rumah sakit. Khususnya kamar jenazah. Merupakan tempat terakhir yang ingin didatangi Sigra Hermawan di dunia ini, terutama sejak peristiwa lima tahun lalu. Namun apa daya, dirinya yang bertindak sebagai ketua penyelidik kasus kematian Sarah a.k.a Shabita Adalina tidak mungkin mangkir disaat keluarga almarhumah datang untuk mengklarifikasi.
Jenazah wanita yang ditemukan tenggelam di kolam renang villa mewah di Puncak beberapa hari lalu itu memang benar Shabita. Sejam setelah detektif Sigra dan timnya sampai di RSUD Ciawi, keluarga Shabita akhirnya ampai dan segera mengenali jenazah tersebut. Ibu Shabita, Ny. Adalina, tak kuasa menahan tangis sambil menjerit-jerit memanggil anaknya yang sudah tidak bernyawa. Sang kakak, Tony, sampai harus membopong ibunya agar tidak pingsan ditempat.
Keluarga memutuskan untuk membawa pulang jenazah setelah semua pemeriksaan selesai. Detektif Sigra pun segera menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki keseharian Shabita, di rumah maupun sekolah.
***

Tenda putih itu berdiri tegak meski tidak ada pelayat yang datang. Rumah dimana tenda putih itu berdiri adalah rumah itu adalah rumah Shabita Adalina.
Detektif Sigra dan Arif duduk di teras rumah sembari menghabiskan kue yang disajikan pembantu rumah. Harusnya Ia sudah bisa bertemu dengan Ny. Adalina sejak 3 jam yang lalu, namun sampai sekarang Ny. Adalina belum tampak batang hidungnya.
“Rif, lebih baik kamu lihat-lihat sekitar sini, apakah ada yang janggal, daripada nganggur kayak gini”

“baik pak, kalau bapak sendiri mau ngapain?”

“Mau ngerokok sambil nyari inspirasi”

“Huuh dasar bapak, ngga adil itu namanya”, cetus Arif walau sambil beranjak pergi memenuhi perintah atasannya.

Tak lama berselang, sebuah mobil mewah masuk ke dalam halaman rumah, berhenti tepat di depan teras. Ny. Adalina turun dari mobil, tampaknya sungguh tidak karuan.

“duh maaf ya Pak, jadi nungguin saya, tadi sibuk ngurus ini itu”

“ngga apa apa bu, saya juga nyantai kok”

“silahkan masuk pak”

“terima kasih bu”
Ny. Adalina dan detektif Sigra masuk ke dalam rumah, lalu duduk di sebuah sofa putih besar yang terletak di ruang tamu.
“Apa yang bisa saya bantu pak?”

“maaf sebelumnya, padahal ibu lagi berduka tapi saya malah bolak balik ngerepotin”

“Ngga apa apa pak, saya malah ini kasus kematian anak saya diselidiki, masih ada yang janggal dihati saya”

“Benar bu, terima kasih atas kerjasamanya. Sebaik mungkin saya akan selidiki semuanya. Ngomong-ngomong apa ibu sudah siapkan semuanya yang saya sms kemarin?”

“sudah pak, ini di dalam kardus”

“saya butuh sesuatu yang personal dari Shabita seperti diari”

“bentar ya pak saya carikan…..kalau ini pak?”

Ny. Adalina menyodorkan sebuah agenda merah polos beludru dengan gembok kecil sebagai pengamannya.

“Ada kuncinya bu?”

“Saya tidak tahu pak”

“Hmm, kalau tang punya bu?”

” Ada pak, sebentar ya….bi Imah…tolong ambilkan kotak perkakas!”
Agenda merah itu akhirnya terbuka setelah perjuangan keras Arif dan bi Imah. Tidak ada yang menarik, namun semua isinya seperti surat untuk seseorang, dan seseorang itu bernama Nana.
“Nana itu siapa ya bu?”, tanya detektif Sigra setelah membaca beberapa lembar halaman agenda

“Kalau disini tidak ada yang namanya Nana pak, mungkin teman sekelasnya”

“mungkin bu, nanti akan saya klarifikasi ke sekolah, agenda ini boleh saya bawa?”

“silahkan pak”

“O ya kalau Pak Wage ada? Saya dengar Shabita selalu diantar jemput pak Wage ke sekolah, Bisa saya bertemu dengan beliau sekarang?”

“Ada di belakang, bentar ya saya panggilkan”
Pria tua yang bernama Wage itu hanya bisa celingak celinguk bingung dengan dua pria yang ada dihadapannya, yang satu memegang kamera dan alat seperti microphone, yang satu lagi sibuk mencatat sesuatu sembari bertanya.

“Jadi pak Wage terakhir bertemu Shabita jumat 2 minggu yang lalu?”

” Iya pak, non Bita saya jemput jumat sore disekolah seperti biasa, saya antar sampai rumah”

“Habis itu?”

“Habis itu saya lanjut jemput ibu di mall, saya ngga ketemu-ketemu lagi sama non Bita”

“Oke, terus pak, selama ini Shabita pernah bawa teman ngga? nebeng pulang gitu”

“Ngga pak, dia selalu sendiri keluar dari gerbang”

“Kalau Nana, bapak pernah denger nama itu?”

“Ngga pak”

“Oke makasi ya pak, sekarang saya ke bi Imah, mumpung bibi lagi disini, kalau bibi sendiri terakhir ketemu Shabita kapan?”

“sama kayak Wage pak”

“hari Jumat?”

“iya pak, setelah sampai rumah si non ganti baju, makan, terus ijin keluar, bawa tas tangannya yang warna coklat, katanya mau nginep main dirumah temen, bibi disuruh bilang ke nyonya”

“Temannya namanya Nana?”

“bukan pak, dia cuma bilang kerumah teman”

“terus?”

“ya terus sampai sekarang ini, tau-tau kabarnya non Bita udah ngga ada”

“o ya, tadi bawahan saya sempat muter-muter liat rumah, ternyata banyak kamera cctvnya ya, kalau boleh tau rekamannya ada di siapa ya?”

“itu di nyonya pak, kami berdua ngga tau apa apa kalo soal kamera”

“oke cukup sampai disini aja, terima kasih ya pak wage dan bi imah sudah mau ditanya-tanyain”
***
3 hari setelah kedatangannya ke rumah keluarga Adalina, detektif Sigra, Arif, dan Gugun, anak buahnya yang paling muda, berdiri di bawah terik matahari siang yang menyengat di depan gerbang sekolah Ilmu Mulia.
“Gun kamu jangan lupa untuk ingetin ibu Adalina buat ngasih rekaman cctv rumah”

“sudah pak, saya whatapps tadi pagi tapi belum dibaca”

“oke terus kamu back up aja ya, bukti penting itu”

“Siap pak!”

“Kalo kamu Rif, apa kau sudah menghubungi wali kelas Shabita?”

” Sudah pak! Bu Yuni pak namanya, beliau bilang kita bisa bertemu ketika istirahat makan siang”

“Oke, sudah kalian siapkan notes dan tape recordernya?”

“Siap sudah pak!”

“Bagus…ayo masuk”
Detektif Sigra memimpin kedua anak buahnya masuk. Satpam yang berjaga di gerbang mempersilahkan ketiganya masuk begitu melihat kartu identitas yg disodorkan Arif. Mereka pun dibawa ke ruang bimbingan konseling dimana Bu Yuni, wali kelas 12 IPA 3, sudah duduk menunggu kedatangan ketiga lelaki tersebut.
“Selamat siang ibu ibu”, detektif Sigra menyapa kedua wanita tersebut dengan ramah

“Siang pak, apakah anda yang bernama Sigra Hermawan?”

“Ya benar bu, saya Sigra, dan anda?”

“Saya Yuni pak, wali kelas Shabita”

“Ah ya…mohon kerjasamanya bu”

“Iya pak, jadi apa yang bisa saya bantu pak?”

” Kalau boleh kami ingin melihat daftar nama siswa yang sekelas dengan Shabita, dan juga catatan akademik Shabita”

“Boleh pak, nanti akan saya kopikan, atau kalau bapak mau saya emailkan”

“Wah terima kasih bu, cukup dikopikan saja, ngomong ngomong Shabita itu anak yg seperti apa ya dikelas?”

“Dia salah satu murid terbaik kami pak, sungguh sayang melihatnya mati di usia muda, padahal masa depannya sudah terjamin”

“Maksud anda?”

“Iya pak…Shabita itu dari keluarga kaya, Bapaknya, seorang pengusaha batu bara, Ibunya dulu berprofesi sebagai seorang dokter, kakaknya merupakan mahasiswa kedokteran tingkat akhir, Shabita selalu 3 besar dikelas, jadi kami pikir dia akan mengikuti jejak ibu dan kakaknya sebagai dokter”

“Ooo, kalau teman bu, apakah Shabita memiliki teman dekat di kelas?”

“Sejujurnya saya kurang yakin, saya selalu melihatnya di perpustakaan pada jam istirahat, jarang ke kantin, dia selalu membawa bekal, selain itu begitu bel berbunyi, dia langsung menuju parkiran mobil, dijemput sama sopirnya, kalau tidak salah nama sopirnya Pak Wage”

“Kalau Pak Wage sudah kami periksa bu, dia clear, tidak bersalah, kalau begitu sepertinya cukup segini dulu bu, o ya apa saya boleh melihat kelas IPA 3?”

“Boleh pak, mumpung jam istirahat, sementara itu saya kopikan dulu dokumen yg bapak minta”

“Baik terima kasih bu”
***
Detektif Sigra memandangi kertas hasil kopian berisi daftar nama siswa 12 IPA 3 dan rangkuman nilai ujian Shabita. Dari daftar yang dipegangnya tidak ada yang salah. Shabita jelas siswi yang pintar, nilai ujian semua mata pelajaran tidak kurang dari 85. Komentar para guru pun tidak ada yang negatif. Catatan absen terakhir membuktikan benar kalau Shabita terakhir kali masuk sekolah di hari jumat, atau 2 hari sebelum dia dinyatakan hilang. Wawancara Arif dan Gugun terhadap para siswa 12 IPA 3 juga tidak terlalu membantu, bahwa tidak ada yang mengaku sebagai teman dekat Shabita. Tidak ada pula yang bernama Nana. Jadi siapakah Nana yang dimaksud di dalam agenda merah Shabita dan apa keterlibatannya dalam kasus bunuh diri atau mungkin pembunuhan Shabita Adalina???
-bersambung-

Karya: Aurora Fathyaa

Ig: @au_9268

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *