Hello Makna Kata

Menelisik Makna dalam Untaian Kata

Kutunggu Kau

Teman – teman biasa memanggil aku Ita.

Namun Bang Rizal lebih sering memanggilku dengan sebutan bocah, terkadang kalau pitamnya sedang naik aku biasa dipanggilnya anak setan.

Aku tidak seperti anak lainnya, yang hidup beratapkan genteng, memakai baju putih merah yang mereka sebut seragam, atau berjalan bersama ayah ibunya setiap hari.

Aku hidup beratapkan langit, berbaju seadanya, dan berjalan bersama Bang Rizal.

Bang Rizal ini sudah kuanggap orangtuaku sendiri, walau dia pemarah dan kasar, tapi dialah yang memberikan kami sesuap nasi setiap harinya dan melindungi kami setiap kali ada razia.

O ya, aku ini tidak sendirian, anak asuh bang Rizal tidak hanya aku, tapi ada sepuluh anak lainnya. Kami biasa bermain dan mengamen di jalanan Kota Bogor setiap harinya. Kata bang Rizal, bapak ibu kami tidak menginginkan kami dan memberikannya kepada bang Rizal untuk diasuh. Aku tidak percaya itu. Kalau kata Ani, sesama anak asuh bang Rizal, bapak ibu kami sedang merantau ke negeri tetangga demi mencari penghidupan yang lebih baik. Suatu saat nanti, ketika mereka sudah punya cukup uang, kami akan diambil kembali dari tangan bang Rizal. Aku lebih percaya perkataan Ani.

Kalau tidak sedang mengamen, aku biasa duduk-duduk di trotoar jalan, di sekitaran Terminal Baranangsiang. Tempat ini adalah tempat favoritku. Tempat yang menurutku paling strategis untuk melihat orang yang lalu lalang keluar masuk terminal. Siapa tau aku bisa melihat Ibu keluar dari sana suatu hari nanti.

Aku tidak tahu seperti apa wajah Ibuku. Pasti kalian semua heran bagaimana aku bisa mengenali Ibuku kalau aku tidak punya ingatan sedikitpun tentangnya. Kakek tua pedagang asongan depan terminal pernah berkata kepadaku kalau darah itu lebih kental daripada air, maksudnya hubungan keluarga itu lebih kuat daripada apapun. Jadi aku percaya kalau aku bisa langsung mengenali Ibu begitu aku melihatnya.

Malam itu layaknya malam-malam lain di Kota Bogor. Hujan, dingin, dan gelap. Aku duduk di trotoar depan Pasar Swayalan Ngesti sambal menggosok-gosok tangan, mencoba mengusir kedinginan yang menyelimuti tubuhku sedari tadi.

Jam di warung kaki lima menunjukkan pukul 7 malam. Masih terlalu dini untuk bisa bersantai-santai. Biasanya kami selesai mengamen dan kembali ke tempat kami tidur sekitar pukul 10 malam namun lebam-lebam disekujur tubuh memaksaku untuk menyudahi mengamen hari ini. Kemarin aku hanya membawa sedikit uang dibanding teman-teman yang lain, membuatku harus menerima beberapa pukulan dan tendangan dari bang Rizal.

Hujan sepertinya masih tidak puas membasahi bumi. Baju lusuh nan rombeng yang kupakai sudah tidak mampu melindungi badan ini. Angin yang bertiup semakin membuat tubuh kecilku menggigil. Mereka yang lalu lalang di depanku, seolah-olah sibuk dengan dunianya masing-masing sampai tidak ada yang menyadari kehadiranku.

Sebuah mobil hijau bertuliskan BUBULAK-BARANANGSIANG berhenti di seberang jalan. Beberapa orang turun dari mobil tersebut, salah satunya seorang wanita berkemaja putih lusuh. Setelah mobil hijau pergi, tinggal wanita berkemeja putih yang tetap tinggal. Ia nampak kebingungan, mencoba mencari tempat untuk berteduh sambil sesekali mengedarkan pandangannya. Mata kami pun akhirnya bertemu. Aku yang sejak tadi mengamati gerak-geriknya sontak terdiam kaku. Mata itu, ya mata itu, aku yakin pernah melihatnya, mungkin sewaktu aku masih bayi. Mata yang penuh dengan kehangatan dan kasih sayang. Mata yang merindukan kehadiran seorang gadis kecil. Mata yang tidak menyerah putrinya. Saat itu juga aku tau dia Ibuku. Aku pun bangkit dan berlari menghampiri Ibu. Cahaya putih yang menyilaukan tetiba muncul dan menerjang dari sebelah kananku. Dan selanjutnya, yang aku ingat, semuanya gelap.

******

“Tabrakan! Ada tabrakan!”

“Siapa yang ditabrak?”

“Itu loh, anak kecil cewek yang biasa ngamen di terminal”

“Udah dibawa ke rumah sakit?”

“Kayaknya gak selamat deh, tadi gue liat darahnya banyak banget, ngucur dari kepalanya, sekarang sih udah ada polisi yang nanganin”

“Innalillahi….”

Obrolan dua pria itu membuat si wanita menjadi penasaran. Ia yang sedari tadi berteduh di warung depan jembatan sembari meminum secangkir kopi panas mendekati kedua pria tersebut, mencoba mengorek informasi mengenai peristiwa yang baru saja terjadi.

“Maaf punten a, ini rame-rame ada apa ya?”

“Itu bu, barusan ada tabrakan, mobil pribadi nabrak anak kecil”

“Masyaallah gusti, anak siapa a?”

“Pengamen bu, biasa ngamen disekitar sini sama teman-temannya, kasian udah gak punya orangtua”

“Ya Allah semoga tenang ya disana…”

“Iya bu, ngomong-ngomong Ibu lagi ngapain disini?”

“Saya lagi nyari orang a, keponanakan saya, aa kira-kira kenal gak ya? Dia asli sini”

“O, kalau boleh tau, siapa bu namanya?”

“Rizal a, Rizal Pahlepi…”

Karya: Aurora fathya

Ig: @au_9268

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *